Sebenarnya lagi banyak ide yang ingin ditulis, mulai dari yang serius masalah rencana pemerintah mengalihkan sebagian SPBU untuk tidak lagi melayani premium biasa (premium oktan 88) atau tulisan yang agak serius tentang banyak teman yang lagi pada sedih. Tapi itu ntar aja, berhubung sekarang udah hampir setengah dua malem, barusan habis nyetrika.. kasian banget yaaa jam satu masih nyetrika baju sendiri. Tapi ga papa, namanya juga mandiri.. hik..hik..plis bantuin ^^
Ooo yaaa tulisan singkat kali ini saya akan coba ngasih sedikit tips tentang shalat khusyuk. Ide ini muncul ketika tadi shalat Isya, saya udah lama ga shalat khusyuk, ga tau kepala terlalu banyak isinya sehingga tetap kebawa ketika shalat.
Beragam cara orang melakakun shalat agar didapat apa yang namanya shalat khusyuk, sementara masih banyak orang mungkin termasuk saya masih bingung, yang dimaksud shalat khusyuk itu sendiri apa, trus gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Kalau saya pribadi menyimpulkan arti shalat khusyuk itu adalah menempatkan shalat sebagai moment antara kita dengan yang Diatas, moment dimana kita memujiNya, berbicara dan mengadukan segalanya kepadanya.
Trus, gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Ada orang yang bilang, agar bisa khusyuk kita harus bisa mengerti makna semua bacaan. Yang ini ga salah juga, tapi ada satu kelemahan dengan ini, dan nanti akan saya ulas setelah saya mengutarakan tips mudah untuk khusyuk. Naah tentang bagaimana shalat yang khusyuk itu sendiri, bagi saya pribadi ada 2 tahap yang saling berkiatan yaitu;
1. Proses sebelum shalat
Ini semacam pra kondisi sebelum kita shalat. Saya terinspirasi dengan ucapan ustadz Nazaruddin Umar, seorang pakar tasawuf dalam sebuah wawancara di acara ramadhan di MetroTV pada ramadhan yang lalu. Sang Ustadz bilang bahwa khusyuk itu sendiri sebenarnya merupakan proses, tidak hanya terpusat pada saat shalat itu sendiri. Beliau menggambarkan, bagaimana sebelum shalat itu ada azan, shalat sunat, qamat dan baru shalat itu sendiri. Apa makna dari proses itu sendiri adalah pengkondisian bahwa sebelum bisa benar-benar bisa berbicara dengan Tuhan melalui shalat, kita sebaiknya memulai dengan proses tersebut sehingga dengan azan, shalat sunnat dan qamat, kita bisa sejenak melupakan hal duniawi sehingga kita akan konsentrasi untuk shalatnya sendiri.
Ribet yaaa, simplenya gini, bayangkan kalau kita abis banyak kerjaan, trus buru-buru wudhu dan langsung shalat, pasti kerjaan yang barusan dikerjain kebawa ke shalat, betuull... (dengan logat Zainuddin MZ). Naah bandingin dengan kita ketika kerja, denger azan, kita wudhu, trus shalat sunat dulu, trus denger qamat, baru shalat, tentu akan sangat beda, karena kita telah melewati beberapa proses, kerjaan yang tadi masih nyantol di otak sedikit banyak lupa pada saat kita shalat.
2. Pada saat shalat
Pada saat shalat itu sendiri, bagi saya sangat simple walau susah dilakuin. Seperti telah diutarakan pada proses pertama, dengan kita melupakan sejenak kegiatan duniawi, sebenarnya kita bisa lebih konsentrasi dengan shalat itu sendiri. Naah kalau saya pribadi, cara supaya khusyuk adalah dengan benar-benar memperhatikan bacaan shalat. Misal kita baca bismillah, yaa konsentrasi pada pelafazan bismillah itu sendiri. Jangan konsentrasi untuk melakukan translate ke bahasa indonesia, misal pas baca bismillah, otak kita bekerja menterjemahkan menjadi 'dengan nama Allah' pasti konsentrasi akan terpecah dua, yang satu melafazkan ayat, yang satu menterjemahkan. Nah disitu menurut saya yang menjadi kelemahan kalau kita memaknai khusyuk itu dengan mengerti arti ayat-per ayat. Pengalaman pribadi sendiri, ketika kita benar-benar konsentrasi kepada pelafazan bacaan-bacaan dalam shalat, ada perasaan tenang dan tubuh berasa lebih segar, serasa ada yang meniupkan hawa dingin yang mengademkan tubuh. Itu pengalaman pribadi aja, masing-masing kita mungkin akan beda. Tapi dari sana saya percaya bahwa sebenarnya bacaan shalat itu sebenarnya punya sesuatu kekuatan sendiri, seperti membaca Al-Qur'an, tanpa mengetahui arti bacaan itu sendiri, dengan membaca kita merasa lebih tenang, padahal kita tidak mengerti apa yang kita baca sebelum kita baca terjemahannya. Disana menurut saya salah satu mukjizat ayat Al-Qur'an, karena itu bacaan berasal dari yang Diatas, sehingga memberi efek yang beda pada diri kita yang membacanya, begitu juga dengan bacaan-bacaan yang ada dalam shalat. Hayuk, siapa yang udah lama ga baca Al-Qur'an, jangan pas puasa aja rajin baca Al-Qur'an ^^
Naah itu dikit tips khusyuk, masing-masing kita mungkin punya pengalaman beda-beda dan cara yang beda-beda. Tapi disini saya cuma coba sharing pengalaman pribadi, siapa tau teman-teman ada yang pengen coba dan berhasil.
Sedikit info aja, di buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq saya sempat baca, Umar ra sendiri pernah berkata bahwa kita tidak bisa benar-benar melupakan hal-hal yang duniawi pada shalat kita shalat, seperti katanya dia kadang menyusun strategi perang pada saat sedang shalat. Naah, seperti kita tau ibadah shalat para sahabat tersebut adalah cara beribadah kedua terbaik setelah Rasulullah saw sendiri. Kalau sahabat sendiri khusyuk dalam shalat masih saja teringat dunia, berarti wajar jika sedikit banyak kita masih suka ingat hal-hal duniawi dalam shalat tapi yang terpenting bagaimana kita bisa mengurangi porsinya sehingga waktu shalat menjadi waktu special antara kita dengan Dia, toh cuma 10 menit dikali 5 kali sehari, cuma 50 menit dari 1440 menit yang kita punya perharinya, seberapa siy, kok masih susah menyisihkannya, wallahu'alam
Daah akh, dah jam 2.20, panjang juga yaaa, padahal tadi rencananya cuma tulisan singkat hehehe..... good sleep boy ^^
Monday, December 10, 2007
Sunday, December 09, 2007
Rahasia Perempuan
to be happy with a man, you must understand him a lot and love him a little. To be happy with a woman you must love her a lot, and not try to understand her at all
Saya berangkat ke kantor pagi ini dengan niat jelek, apa niat jeleknya ga usah di bahas. Tapi nyampe di kantor ga kesampaian, ga tau niat tersebut kececer dijalan atau menguap sendiri ketika dalam perjalanan dari rumah ke kantor..niat jelek kok di plara.. yaa udah nulis blog aja.
Oo yaa, tulisan kali ini ga serius, cuma pengen cerita-cerita aja. Berita gembira, bagi saya tentunya, anda terserah :P... sayanya ga jadi pindah rumah akhir tahun ini karena akan tetep perpanjang kontrakan yang saat ini ditempati. Belum benar-benar positif siy, soalnya tergantung ke adik juga, apa dia mau tetap atau kekeh mau kost. Dari dulu ini adik memang pikirannya susah di tebak, maklum ce.. ce emang gitu yaaa, ga se simple kita yang co kalau mikir. Bagi kita para co kalau liat ce itu mikir sering suka bingung, kok ribet banget.. udah mikir ribet-ribet, ee keputusannya salah lagi.
Belakangan saya memang lagi serius coba memetakan cara pikir kaum ibu-ibu ini, dari sekian orang yang saya kenal, hmm ga ada satupun yang saya bisa petakan maunya apa siy ini.. Kadang omongan yang bagi kita para co itu suatu omongan ga berarti apa-apa, bagi para ce bisa berjuta arti.. dan seringnya, ngambilnya arti yang paling jelek.. dan malesnya lagi arti yang paling jelek tersebut justru bikin mereka sedih sendiri, marah-marah sendiri.. lebih apes lagi kadang kita kebagian dimarahi.. haaaaa.. kalau di omongin bukan itu maksudnya, ee kalian justru bilang, 'aku ini ce..' so what gitu lo kalau kamu itu ce, emang ce itu slalu lebih tau, lebih perasa, dan paling bisa mengartikan segala sesuatunya, kalau memang bukan itu artinya, Gimana?
Akh makanya dengerin quote diatas atau comment seorang novelis Oscar Wilde
women are meant to be loved, not to be understood
Tapi emang yaaa, mungkin disitu kali makna Yin dan Yang, dalam hidup itu selalu ada yang pengimbang, selalu berpasangan dan saling menutupi dan melengkapi. Ke simple an co itu ga bisa dibiarin sendiri, harus diimbangi dengan ke complicate an ce, begitu juga sebaliknya.
Jadi ingat lagunya the Rock (walau ga ada hubungannya sama tulsan diatas ^^):
Enjoy..!
Saya berangkat ke kantor pagi ini dengan niat jelek, apa niat jeleknya ga usah di bahas. Tapi nyampe di kantor ga kesampaian, ga tau niat tersebut kececer dijalan atau menguap sendiri ketika dalam perjalanan dari rumah ke kantor..niat jelek kok di plara.. yaa udah nulis blog aja.
Oo yaa, tulisan kali ini ga serius, cuma pengen cerita-cerita aja. Berita gembira, bagi saya tentunya, anda terserah :P... sayanya ga jadi pindah rumah akhir tahun ini karena akan tetep perpanjang kontrakan yang saat ini ditempati. Belum benar-benar positif siy, soalnya tergantung ke adik juga, apa dia mau tetap atau kekeh mau kost. Dari dulu ini adik memang pikirannya susah di tebak, maklum ce.. ce emang gitu yaaa, ga se simple kita yang co kalau mikir. Bagi kita para co kalau liat ce itu mikir sering suka bingung, kok ribet banget.. udah mikir ribet-ribet, ee keputusannya salah lagi.
Belakangan saya memang lagi serius coba memetakan cara pikir kaum ibu-ibu ini, dari sekian orang yang saya kenal, hmm ga ada satupun yang saya bisa petakan maunya apa siy ini.. Kadang omongan yang bagi kita para co itu suatu omongan ga berarti apa-apa, bagi para ce bisa berjuta arti.. dan seringnya, ngambilnya arti yang paling jelek.. dan malesnya lagi arti yang paling jelek tersebut justru bikin mereka sedih sendiri, marah-marah sendiri.. lebih apes lagi kadang kita kebagian dimarahi.. haaaaa.. kalau di omongin bukan itu maksudnya, ee kalian justru bilang, 'aku ini ce..' so what gitu lo kalau kamu itu ce, emang ce itu slalu lebih tau, lebih perasa, dan paling bisa mengartikan segala sesuatunya, kalau memang bukan itu artinya, Gimana?
Akh makanya dengerin quote diatas atau comment seorang novelis Oscar Wilde
women are meant to be loved, not to be understood
Tapi emang yaaa, mungkin disitu kali makna Yin dan Yang, dalam hidup itu selalu ada yang pengimbang, selalu berpasangan dan saling menutupi dan melengkapi. Ke simple an co itu ga bisa dibiarin sendiri, harus diimbangi dengan ke complicate an ce, begitu juga sebaliknya.
Jadi ingat lagunya the Rock (walau ga ada hubungannya sama tulsan diatas ^^):
Ada satu bagian pada perempuan
Yang sangatlah peka bila di sentuh oleh lelaki
Dimanakah bagian itu maukah kau tahu
...
Reff. Sentuhlah dia tepat dihatinya
Dia kan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan setulus cinta
Buat hatinya terbang melayang
Enjoy..!
Thursday, December 06, 2007
Salmiati
Salmiati, nama itu begitu indah, mengingatkan pada masa-masa kuliah dulu di Bandung.. ups, tapi ini bukan nama mantan pacar, gini-gini saya merupakan jomblo sejati, dan sangat bangga berhasil lulus kuliah dengan pradikat jomblo sejati disamping gelar akademik. Ga semua orang bisa lo, memegang teguh prinsip untuk tidak pacaran alias ngejomblo apalagi bandung bo.. tapi saya berhasil melewatinya.. sayangnya kebablasan sampai sekarang.. ^^
Ooo yaa, cerita yang namanya Salmiati, tepatnya ibu.. lebih tepatnya lagi ibu Dokter Salmiati.. bagi yang dulu pernah kuliah di bandung dan tinggal di daerah seputaran dago sampai gasibu bandung, nama si ibu sangatlah harum. Beliau adalah dokter umum yang berpraktek di daerah Dago, dan punya pasien buanyak banget.. dan rata-rata mahasiswa. Kalau ketemu si ibu, trus dengar suaranya aja dijamin panasnya turun 50%.. kalau suhunya 39-40, berarti suhu tubuhnya jadi 20 derajat yaaa... ooo terlalu rendah yaa.. hmm maksudnya, sakitnya bisa berkurang 50%. Jangan pikir karena saya co trus ketemu dokter cantik dengan suara lembut.. dulu 30 tahun yang lalu mungkin ibunya cantik, masih terlihat di guratan wajahnya.. tapi yang tersisa sekarang adalah kelembutan suaranya.. sangat menyejukkan bagi para pasien.
Trus, kelebihan yang pasti yang dirasakan sama semua mahasiswa yang berobat kesana adalah biaya berobat sama si ibu yang sangat murah, boleh dibilang si ibunya ga ngambil biaya pengobatan sama sekali. Si ibu biasanya cuma bilang, masukin aja seikhlasnya ke kotak amal yang berada di pojok ruangannya.. yang namanya seikhlasnya, ngomong ke kita mahasiswa, pasti 5rb atau 10 udah gede tuh, apalagi di sekitar taun 90-an. malah kadang ada yang ngasih 3rb, atau ditolak sama sekali sama ibunya kalau kita berhasil majang tampang susah di depan si ibu.
Dengan semua kedermawanan si ibu dokter ini, mungkin tidak ada mahasiswa yang berobat padanya tidak berterima kasih dan mendo'akan beliau agar mendapat pahala yang setimpal dari yang Diatas. Gara-gara si ibu ini juga, dulu ada 'seseorang' yang terobsesi punya istri seorang dokter.. yang ada di benak 'orang' tersebut adalah betapa mulianya dia kalau punya istri yang se shaleh dan sedermawan si ibu Salmiati. Ada bayangan indah 'orang' tersebut, betapa mulianya jika dia nyari nafkah untuk keluarga sementara si 'istri' berada di sekitar orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya, kalaupun dia ga kebagian amalan ga apa-apa, begitu 'katanya', tapi dia cukup bahagia beristrikan seorang yang mulia dihadapan masyarakat dan Tuhannya. 'si orang' tersebut pernah bercerita bahwa dia sempat nonton, apa baca buku tentang sesungguhnya seorang dokter itu pada hakikatnya telah dilahirkan untuk perpanjangan tangan dari Tuhan untuk menyembuhkan penyakit orang disekitarnya, betapa sebenarnya seorang dokter diberi suatu keistimewaan yang sangat besar sama yang Diatas, yang kalau utilize dengan baik merupakan ladang amal terluas.
Pertemuan terakhir dengan 'orang' tersebut, ternyata orangnya masih sendiri belum menemukan yang dicari. Ada kekecewaan, dan 'katanya' kenapa ada seorang dokter Salmiati yang sangat istimewa dimata mahasiswa dan orang disekelilingnya, karena 'katanya' sulit menemukan Salmiati-salmiati lainnya. Saat ini dia cuma mencari wanita yang bisa melengkapi dirinya untuk bersama-sama berbuat baik untuk keluarga, tetangga dan orang sekitar, tidak harus dalam bentuk materi.. tapi perhatian dan kasih sayang..
good luck man..
kirim do'a buat ibu Salmiati, moga beliau selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk lebih banyak lagi menyembuhkan orang-orang disekitarnya.
Selamat ultah ikatan dokter indonesia.. ups emang sekarang ultah IDI.. hihihi, sok tau.
caw... pulaaaanggggggg.. (9:23 PM)
Ooo yaa, cerita yang namanya Salmiati, tepatnya ibu.. lebih tepatnya lagi ibu Dokter Salmiati.. bagi yang dulu pernah kuliah di bandung dan tinggal di daerah seputaran dago sampai gasibu bandung, nama si ibu sangatlah harum. Beliau adalah dokter umum yang berpraktek di daerah Dago, dan punya pasien buanyak banget.. dan rata-rata mahasiswa. Kalau ketemu si ibu, trus dengar suaranya aja dijamin panasnya turun 50%.. kalau suhunya 39-40, berarti suhu tubuhnya jadi 20 derajat yaaa... ooo terlalu rendah yaa.. hmm maksudnya, sakitnya bisa berkurang 50%. Jangan pikir karena saya co trus ketemu dokter cantik dengan suara lembut.. dulu 30 tahun yang lalu mungkin ibunya cantik, masih terlihat di guratan wajahnya.. tapi yang tersisa sekarang adalah kelembutan suaranya.. sangat menyejukkan bagi para pasien.
Trus, kelebihan yang pasti yang dirasakan sama semua mahasiswa yang berobat kesana adalah biaya berobat sama si ibu yang sangat murah, boleh dibilang si ibunya ga ngambil biaya pengobatan sama sekali. Si ibu biasanya cuma bilang, masukin aja seikhlasnya ke kotak amal yang berada di pojok ruangannya.. yang namanya seikhlasnya, ngomong ke kita mahasiswa, pasti 5rb atau 10 udah gede tuh, apalagi di sekitar taun 90-an. malah kadang ada yang ngasih 3rb, atau ditolak sama sekali sama ibunya kalau kita berhasil majang tampang susah di depan si ibu.
Dengan semua kedermawanan si ibu dokter ini, mungkin tidak ada mahasiswa yang berobat padanya tidak berterima kasih dan mendo'akan beliau agar mendapat pahala yang setimpal dari yang Diatas. Gara-gara si ibu ini juga, dulu ada 'seseorang' yang terobsesi punya istri seorang dokter.. yang ada di benak 'orang' tersebut adalah betapa mulianya dia kalau punya istri yang se shaleh dan sedermawan si ibu Salmiati. Ada bayangan indah 'orang' tersebut, betapa mulianya jika dia nyari nafkah untuk keluarga sementara si 'istri' berada di sekitar orang-orang yang membutuhkan uluran tangannya, kalaupun dia ga kebagian amalan ga apa-apa, begitu 'katanya', tapi dia cukup bahagia beristrikan seorang yang mulia dihadapan masyarakat dan Tuhannya. 'si orang' tersebut pernah bercerita bahwa dia sempat nonton, apa baca buku tentang sesungguhnya seorang dokter itu pada hakikatnya telah dilahirkan untuk perpanjangan tangan dari Tuhan untuk menyembuhkan penyakit orang disekitarnya, betapa sebenarnya seorang dokter diberi suatu keistimewaan yang sangat besar sama yang Diatas, yang kalau utilize dengan baik merupakan ladang amal terluas.
Pertemuan terakhir dengan 'orang' tersebut, ternyata orangnya masih sendiri belum menemukan yang dicari. Ada kekecewaan, dan 'katanya' kenapa ada seorang dokter Salmiati yang sangat istimewa dimata mahasiswa dan orang disekelilingnya, karena 'katanya' sulit menemukan Salmiati-salmiati lainnya. Saat ini dia cuma mencari wanita yang bisa melengkapi dirinya untuk bersama-sama berbuat baik untuk keluarga, tetangga dan orang sekitar, tidak harus dalam bentuk materi.. tapi perhatian dan kasih sayang..
good luck man..
kirim do'a buat ibu Salmiati, moga beliau selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk lebih banyak lagi menyembuhkan orang-orang disekitarnya.
Selamat ultah ikatan dokter indonesia.. ups emang sekarang ultah IDI.. hihihi, sok tau.
caw... pulaaaanggggggg.. (9:23 PM)
Wednesday, December 05, 2007
Narciscus
Mengapa seorang fotografer suka majang fotonya ketika lagi megang kamera atau lagi bidik object dengan kameranya kayak foto saya disamping, padahal saya bukan seorang fotografer. Itu sama dengan pertanyaan kenapa seorang dokter doyan difoto ketika dalam kostum kebesarannya, jas putih dengan stateskop tergantung di lehernya.
Kalau dipikir-pikir garing yaaa, saya jadi sangat malu dengan memajang foto disamping. Ntar kudu dicabut (udah di cabut ding, dah ga tahan, maluuuu..). Kenapa kita selalu mengasosiasikan diri kita dengan apa yang lagi kita gemari, dengan status sosial kita saat ini dan itu harus dipajang dimana-mana. Kenapa harus segitunya nunjukin ke orang-orang 'ini lo gw'. Garing pisang ga siy.. kenapa sekali-sekali ga coba lepas dari embel-embel siapa kita saat ini.
dah akh, sekedar tulisan pendek.. abis tadi dah mau pulang, liat salah satu situs hobi fotografi, liat foto orang-orang yang ngasih comment, kok pada megang kamera semua.. ikhh.. norak.. fotografer kok norak.. :P
Kalau dipikir-pikir garing yaaa, saya jadi sangat malu dengan memajang foto disamping. Ntar kudu dicabut (udah di cabut ding, dah ga tahan, maluuuu..). Kenapa kita selalu mengasosiasikan diri kita dengan apa yang lagi kita gemari, dengan status sosial kita saat ini dan itu harus dipajang dimana-mana. Kenapa harus segitunya nunjukin ke orang-orang 'ini lo gw'. Garing pisang ga siy.. kenapa sekali-sekali ga coba lepas dari embel-embel siapa kita saat ini.
dah akh, sekedar tulisan pendek.. abis tadi dah mau pulang, liat salah satu situs hobi fotografi, liat foto orang-orang yang ngasih comment, kok pada megang kamera semua.. ikhh.. norak.. fotografer kok norak.. :P
Subscribe to:
Posts (Atom)