Baca tulisan Samuel Mulia di Kompas minggu kemaren tentang Potret Diri sungguh bagus. Sudah lama saya ga dapetin tulisan yang bagus dari Dia, ga tau blakangan tulisannya banyak yang aneh jadi saya ga begitu 'klik' membacanya. Bagaimanapun, saya sedikit banyak terinspirasi oleh cara penulisan dia, sehingga tulisannya tiap minggu selalu saya tunggu-tunggu, seperti menunggu tulisannya Harry Rusli di kompas minggu ketika beliau masih hidup.
Ooo iya, tulisan potret diri Samuel Mulia tersebut bercerita tentang jalan hidupnya yang tergambar dari kumpulan foto dirinya mulai dari masa muda yang tanpan, energik, dan gilaa... serta foto terakhir yang telah mulai beruban, berkaca mata plus dan tidak lagi seenergik dulu. Ide yang bagus sebagai tulisan penutup taun, untuk melihat ke belakang.
Bagi Samuel Mulia yang telah berkepala empat, usia telah membuat dia lebih bijak, usia telah membawa dia yang seperti katanya lebih religius. Samuel yang dulu berpose dengan G-string ketika muda, kini menjadi samuel yang ngomongin puasa ketika ramadhan kemaren, meski bukan muslim, tapi dijalani sebagai untuk mendapatkan nilai spiritual. Sebagian orang memang menjalani siklus hidup seperti Samuel kali yaa, ada saatnya mereka sangat enjoy dengan hidupnya, seperti akan hidup selamanya, masa-masa liar, dan suatu saat terbangun, menyadari hidup yang tidak akan lama lagi, sehingga berangsur akan berubah, lebih menatap ke depan yang jauh diluar dunianya, sehingga membuat dia lebih wish. Bersyukurlah, karena diberi kesempatan untuk pemberbaiki diri, bagaimana jika tidak?
Walah, omongan kok jadi kayak aki-aki lagi yaaa.. hihihi. Tapi ga apa-apa, berhubung akhir taun saatnya buat review dan susun rencana. Tulisan ini juga tercetus kebetulan tadi ketika shalat. Shalat itu sepertinya bikin banyak inspirasi yaaa, buktinya rangkaian kata-kata ini terjalin justru ketika mau menyelesaikan shalat sunnah abis magrib tadi.. btw, begitu tuh orang yang belum lama ini berkoar tentang shalat khusyuk, apa itu contoh shalat orang yang khusyuk hehehe..
Ooo yaa, tadinya saya mau nulis flash back, tapi flash back menganggap diri seolah-olah telah berusia 44 tahun, dimana diusia tersebut sayanya telah sukses sebagai penulis, punya kolom sendiri di koran ibukota, dan coba melihat potret diri kebelakang tepat ke hari ini... eee pas dirumah, keingatan, kok bisa sama yaa sama tulisan samuel mulia diatas, kalau saya cuma dalam hayalan udah berusia 44, samuel mulia ternyata nulis yang sama di Kompas, tapi dalam kehidupan yang real.
Oke, lupakan yang diatas, sekarang pertanyaannya what next, what next year, what next decade of your life, itu yang ada dalam pikiran saya ketika sujud dalam shalat tadi. Terus terang semuanya ga bisa saya jawab, dari dahulu hidup ini ga pernah bisa dipetakan, dan itu mungkin udah jalannya. Beda dengan banyak orang yang bisa memetakan hidupnya, kedepannya gimana dan dengan itu mereka menyusun langkah-langkah, dan mencoba mewujudkannya. Sementara saya dari dulu merasa hidup berdasarkan opportunity, kesempatan yang biasanya lewat sepintas, saya raih dan kemudian mengubah hidup. Ga ada dalam kamus hidup, saya bisa kuliah di bandung, ga pernah terlintas bisa bekerja seperti sekarang, walau ga sesukses orang-orang kalau 'melihat keatas', tapi bagi saya sudah cukup untuk saat ini, telah cukup untuk membuat saya sangat bersyukur, apalagi jika 'melihat ke samping dan ke bawah', semua yang telah saya peroleh tersebut telah membuat saya menjadi seorang ahli syukur. Dan mungkin dengan jalan itu wujud kasih Yang Diatas kepada saya agar saya menjadi orang yang bisa mensyukuri nikmat, dengan jalan yang penuh kejutan, dan itu satu-satunya yang bisa saya harapkan ditaun-taun mendatang, opportunity dan kejutan-kejutan dalam hidup yang akan membuat saya semakin lebih banyak bersyukur.. semoga..!! do'a-in yaaa, ntar saya balas do'a-in situ juga ^^
Cheer...
Taun baru masih lama yaaa hihihihi...
Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts
Friday, December 14, 2007
Kurban
Tadi siang saya dapat sedikit cerita dari teman tentang diskusi makna kurban untuk saat ini. Diskusinya ga berat-berat kok, ga ngomongin agama yang mendalam. Yang jadi sorotan adalah masalah object korbannya yaitu si mbek dan si sapi. Ada teman yang bilang, sepertinya kita patut mereview ulang, apakah bisa hewan tersebut digantikan dengan bentuk yang laen. Bukankah pada daging hewan-hewan itu terdapat banyak sekali penyakit, bukankah daging merah itu sumber kolesterol, darah tinggi dan teman-temannya, belum lagi sekarang banyak terdapat penyakit hewan yang menular ke manusia seperti antrax dan sapi gila, bukannya kita kudu hati-hati.
Benar siy alasan teman yang tadi, belum lagi kebiasaan disini, jakarta khususnya, pada saat kurban terlalu banyak mudarat yang terjadi, pengurus masjid cari keuntungan dari penyelenggaraan korban (itu kata teman, saya sendiri ga tau), trus daging hasil kurban dibikin berbagai macam makanan trus dimakan berame-rame. Selain konsumsi makan daging yang berlebihan, kadang terdapat juga kemubaziran disitu. Belum lagi mereka yang ikutan kurban, biasanya dapat jatah daging kurban yang juga banyak, naah biasanya suka lupa diri misal makan sate yang kebanyakan, sehingga kolesterolnya naik lagi. Pokoknya, terlalu banyak kemudaratan dalam proses kurban saat ini, demikian kesimpulan teman tersebut, dan sebagian saya aminkan.
Ada benar juga, tapi menurut saya yang perlu direvisi sekarang adalah mekanisme pemberian daging kurban tersebut. Penggunaan kambing dan sapi boleh-boleh aja, tapi kepada siapa daging kambing dan sapi itu diberikan. Sebenarnya semua yang dihalalkan oleh agama itu baik untuk dimakan. Yang salah kita sendiri yang mengingkari prinsip dasar larangan dalam agama yaitu berlebihan. Agama saja melarang beribadah yang berlebihan, apalagi makan. Naah biasanya semua itu menjadi sumber penyakit karena dikonsumsi secara berlebihan. Yaa kan, toh dari SD pun kita udah diajarin tentang kecukupan gizi lewat 4 sehat 5 sempurna, bukankah disitu termasuk daging-dagingan.
Naah, untuk itu perlu perbaikan mekanisme, harus cari dulu target penerima daging kurban tersebut, terutama orang miskin yang memang jarang sekali memiliki lauk pauk berupa daging (makan aja kadang jarang). Trus, setau saya kurban itu cendrung kepada ritual, sehingga tidak ada keharusan tentang siapa penerima kurban yang disyara'kan. Tapi akankah lebih baik, kalau memang sudah susah mencari penerimanya, sementara kalau di konsumsi sendiri akan membuat kemudaratan seperti penyakit yang kambuh, yaaa akan lebih baik jika uang buat kurban itu dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermafaat seperti santunan buat uang sekolah anak-anak ga mampu, atau membantu tetangga yang lagi kesusahan, dan perbuatan mulia lainnya..wallahu'alam.. just my opinion ^^
Benar siy alasan teman yang tadi, belum lagi kebiasaan disini, jakarta khususnya, pada saat kurban terlalu banyak mudarat yang terjadi, pengurus masjid cari keuntungan dari penyelenggaraan korban (itu kata teman, saya sendiri ga tau), trus daging hasil kurban dibikin berbagai macam makanan trus dimakan berame-rame. Selain konsumsi makan daging yang berlebihan, kadang terdapat juga kemubaziran disitu. Belum lagi mereka yang ikutan kurban, biasanya dapat jatah daging kurban yang juga banyak, naah biasanya suka lupa diri misal makan sate yang kebanyakan, sehingga kolesterolnya naik lagi. Pokoknya, terlalu banyak kemudaratan dalam proses kurban saat ini, demikian kesimpulan teman tersebut, dan sebagian saya aminkan.
Ada benar juga, tapi menurut saya yang perlu direvisi sekarang adalah mekanisme pemberian daging kurban tersebut. Penggunaan kambing dan sapi boleh-boleh aja, tapi kepada siapa daging kambing dan sapi itu diberikan. Sebenarnya semua yang dihalalkan oleh agama itu baik untuk dimakan. Yang salah kita sendiri yang mengingkari prinsip dasar larangan dalam agama yaitu berlebihan. Agama saja melarang beribadah yang berlebihan, apalagi makan. Naah biasanya semua itu menjadi sumber penyakit karena dikonsumsi secara berlebihan. Yaa kan, toh dari SD pun kita udah diajarin tentang kecukupan gizi lewat 4 sehat 5 sempurna, bukankah disitu termasuk daging-dagingan.
Naah, untuk itu perlu perbaikan mekanisme, harus cari dulu target penerima daging kurban tersebut, terutama orang miskin yang memang jarang sekali memiliki lauk pauk berupa daging (makan aja kadang jarang). Trus, setau saya kurban itu cendrung kepada ritual, sehingga tidak ada keharusan tentang siapa penerima kurban yang disyara'kan. Tapi akankah lebih baik, kalau memang sudah susah mencari penerimanya, sementara kalau di konsumsi sendiri akan membuat kemudaratan seperti penyakit yang kambuh, yaaa akan lebih baik jika uang buat kurban itu dimanfaatkan untuk hal yang lebih bermafaat seperti santunan buat uang sekolah anak-anak ga mampu, atau membantu tetangga yang lagi kesusahan, dan perbuatan mulia lainnya..wallahu'alam.. just my opinion ^^
Menangis
Sebuah tulisan lama dari Cak Nun, bagi saya dalem makna, terutama masalah pertanggung jawaban kita terhadap apa yang merupakan janji kita kepada-Nya dalam shalat. Disini Cak Nun menyorot kata-kata "Iyyaka na'budu" dalam Al-fatihah. Seperti halnya kata "innashalati wanunuki wamahyaya mamamati lillahi rabbil 'alamin" semua itu adalah janji kita didepan Allah, minimal 5 kali sehari, tapi gaa tau deh apa benar-benar semua perbuatan kita adalah untuk menyembah kepadanya, apakah benar-benar karena-Nya sesuai apa yang telah kita ucapkan dalam kata-kata tersebut..
Untuk itu perbanyak istigfar, karena mungkin masih bagitu banyak hati kita, tangan kita, langkah kita yang mungkin mengingkari semua ucapan kita tersebut. Dalam sebuah tulisan kang Jalal pernah berkata bahwa sesungguhnya sangat banyak bencana yang akan kita terima seandainya semua dosa kita dikonversi menjadi azab berupa bencana, dengan istigfar, kita mengakui dan memohon dihapus kesalahan-kesalahan tersebut sehingga dapat terhindar dari yang namanya azab di dunia, wallahu'alam..
selamat membaca, semoga mendapatkan makna yang terkandung didalamnya.. posting ini sebagai pengigat aja, berhubung hari ini malam jum'at, saya sendiri besok ga kemana-kamana, siapa tau ada yang senasib, jadi tulisan ini bisa buat teman, renungan di malam minggu, sekali-skali ngisi malam minggu dengan hal yang religi daripada pacaran mulu.. halah ^^ (red)
===============================================
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam
yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di
pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering
mungkin bersholat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali
memasuki kalimat " iyyaka na'budu " Abah Latif biasanya lantas
terhenti ucapannya, menangis tersedu-sedu bagai tak
berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui
kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya
mengucapkan " wa iyyaka nasta''in" .
Banyak di antara jamaah yang turut menangis, bahkan terkadang
ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
"Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus
berakar," berkata Abah Latif seusai wirid bersama, " Mengucapkan
kata-kata itu dalam Al-fatihah pun harus ada akar dan
pijakannya yang nyata dalam kehidupan. 'Harus' di situ titik
beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah
hakikat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku
selain di dalam hakikat itu."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang mulut para santri.
" Jadi, anak-anakku," beliau melanjutkan, " apa akar dan pijakan
kita dalam mengucapkan kepada Alloh ..iyyaka na'budu?"
"Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan
merupakan bimbingan Alloh itu sendiri, Abah?" bertanya seorang
santri.
"Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh
mengucapkan kehidupan."
"Belum jelas benar bagiku, Abah?"
" Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan
mengucapkan kenyataan."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
Dan Abah Latif meneruskan, " Sekarang ini kita mungkin sudah
pantas mengucapkan iyyaka na'budu.KepadaMu aku menyembah.Tetapi
kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk
layak berkata kepadaMu kami menyembah, na'budu."
"Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian
sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai ummatan
wahidah.Ketika sampai di kalimat na'budu, tingkat yang harus kita
telah capai lebih dari abdullah, yakni khalifatulloh.Suatu maqom
yang dipersyarati oleh kebersamaan kamu muslim dalam menyembah
Alloh di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap
bidang kehidupan.Mengucapkan iyyaka na'budu dalam sholat mustilah
memiliki akar dan pijakan di mana kita kaum muslim telah membawa
urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik
serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Alloh.Maka
anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita
tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapan
kata-kata itu?"
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang para santri.
"Al-fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling
menjadi khalifatulloh di dalam berbagai hubungan kehidupan.Tangis
kita akan sungguh-sungguh tak tak berpenghabisan karena dengan
mengucapkan wa iyyaka nasta'in, kita telah secara terang-terangan
menipu Tuhan.Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam
sehari.Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada
Alloh, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak
bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada
hakikatnya melawan Alloh."
Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
"Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah
perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di
sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke
panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah
benarnya ucapan-ucapanku kepadamu.Kemudian peliharalah kepekaan dan
kesanggupan untuk tetap bisa menangis.Karena alhamdulillah,
seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk
menangis karena keadaan-keadaan itu : airmata saja pun sanggup
mengantarkan kita kepada-Nya."
----------------------------------------------------
Dari : Emha Ainun Nadjib (1987)
Seribu Masjid Satu Jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 19995
Untuk itu perbanyak istigfar, karena mungkin masih bagitu banyak hati kita, tangan kita, langkah kita yang mungkin mengingkari semua ucapan kita tersebut. Dalam sebuah tulisan kang Jalal pernah berkata bahwa sesungguhnya sangat banyak bencana yang akan kita terima seandainya semua dosa kita dikonversi menjadi azab berupa bencana, dengan istigfar, kita mengakui dan memohon dihapus kesalahan-kesalahan tersebut sehingga dapat terhindar dari yang namanya azab di dunia, wallahu'alam..
selamat membaca, semoga mendapatkan makna yang terkandung didalamnya.. posting ini sebagai pengigat aja, berhubung hari ini malam jum'at, saya sendiri besok ga kemana-kamana, siapa tau ada yang senasib, jadi tulisan ini bisa buat teman, renungan di malam minggu, sekali-skali ngisi malam minggu dengan hal yang religi daripada pacaran mulu.. halah ^^ (red)
===============================================
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam
yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di
pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering
mungkin bersholat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali
memasuki kalimat " iyyaka na'budu " Abah Latif biasanya lantas
terhenti ucapannya, menangis tersedu-sedu bagai tak
berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui
kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya
mengucapkan " wa iyyaka nasta''in" .
Banyak di antara jamaah yang turut menangis, bahkan terkadang
ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
"Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus
berakar," berkata Abah Latif seusai wirid bersama, " Mengucapkan
kata-kata itu dalam Al-fatihah pun harus ada akar dan
pijakannya yang nyata dalam kehidupan. 'Harus' di situ titik
beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah
hakikat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku
selain di dalam hakikat itu."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang mulut para santri.
" Jadi, anak-anakku," beliau melanjutkan, " apa akar dan pijakan
kita dalam mengucapkan kepada Alloh ..iyyaka na'budu?"
"Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan
merupakan bimbingan Alloh itu sendiri, Abah?" bertanya seorang
santri.
"Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh
mengucapkan kehidupan."
"Belum jelas benar bagiku, Abah?"
" Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan
mengucapkan kenyataan."
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
Dan Abah Latif meneruskan, " Sekarang ini kita mungkin sudah
pantas mengucapkan iyyaka na'budu.KepadaMu aku menyembah.Tetapi
kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk
layak berkata kepadaMu kami menyembah, na'budu."
"Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian
sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai ummatan
wahidah.Ketika sampai di kalimat na'budu, tingkat yang harus kita
telah capai lebih dari abdullah, yakni khalifatulloh.Suatu maqom
yang dipersyarati oleh kebersamaan kamu muslim dalam menyembah
Alloh di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap
bidang kehidupan.Mengucapkan iyyaka na'budu dalam sholat mustilah
memiliki akar dan pijakan di mana kita kaum muslim telah membawa
urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik
serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Alloh.Maka
anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita
tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapan
kata-kata itu?"
"Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," gemeremang para santri.
"Al-fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling
menjadi khalifatulloh di dalam berbagai hubungan kehidupan.Tangis
kita akan sungguh-sungguh tak tak berpenghabisan karena dengan
mengucapkan wa iyyaka nasta'in, kita telah secara terang-terangan
menipu Tuhan.Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam
sehari.Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada
Alloh, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak
bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada
hakikatnya melawan Alloh."
Astaghfirulloh, astaghfirulloh..," geremang mulut para santri.
"Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah
perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di
sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke
panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah
benarnya ucapan-ucapanku kepadamu.Kemudian peliharalah kepekaan dan
kesanggupan untuk tetap bisa menangis.Karena alhamdulillah,
seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk
menangis karena keadaan-keadaan itu : airmata saja pun sanggup
mengantarkan kita kepada-Nya."
----------------------------------------------------
Dari : Emha Ainun Nadjib (1987)
Seribu Masjid Satu Jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 19995
Wednesday, December 12, 2007
Exchange Kambing dengan Batere
Kenapa kambing bisa ketukar batere, dasar pancinta dunia. Ceritanya, kemaren saya dapet dikit rejeki, terima uang lembur yang udah numpuk dari januari. Lumayan walau tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Naah pas terima, kebetulan lagi baca milis dan di milis ada yang nawarin batere buat laptop yang skarang memang kondisinya udah koit. Karena harga batere nya pas banget dengan uang lembur yang diterima, tanpa pikir panjang lansung mesan.
Lantas apa hubungannya dengan kambing? Hubungannya, karena sekarang udah mau lebaran haji. Dari awal bulan nyokap udah ngigatin apa saya mau ikutan kurban. Pengen siy, tapi belum di anggarin, jadi kepikiran dari dulu moga-moga dapet rejeki lebih, sehingga bisa ikutan kurban. Eee dasar, pas dapet rejeki lebih bukannya ingat kurban, ingatnya batere.
Kadang gitu yaaa, kita.. ee saya maksudnya suka berat banget buat yang namanya nyisihin apa yang bukan hak kita.. kita lagi, saya..!, nyisihin buat bekal di hari akhir kelak. Belum lama, ketika carita tentang ke apes-an yang saya alami di blog ini, seorang teman sempat kirim comment singkat tapi sangat berarti bagi saya. Dia bilang 'zakat nya kurang tuh'.. tak pikir-pikir benar juga, thank pren dah ngingatin. Tadinya bukannya ga ngeluarin zakat, saya biasanya ngeluarin tiap bulan sebagai zakat penghasilan, tapi saya lupa ngitung kalau saya juga punya tabungan yang telah wajib dikeluarin zakatnya. Sama dengan anggaran buat beli kambing, kebetulan zakat ini juga ga teranggarkan, yaaa pengelolaan dana seperti ini yang pasti telah menyalahi aturan pembukuan dimana tidak menganggarkan dana yang seharusnya wajib dikeluarkan.
Jadi gimana niy kambing.. moga-moga taun depan saya ga lupa akan dirimu lagi yaa bing, sing sabar yaa, taun depan dirimu pasti mati.. hehehe..
Lantas apa hubungannya dengan kambing? Hubungannya, karena sekarang udah mau lebaran haji. Dari awal bulan nyokap udah ngigatin apa saya mau ikutan kurban. Pengen siy, tapi belum di anggarin, jadi kepikiran dari dulu moga-moga dapet rejeki lebih, sehingga bisa ikutan kurban. Eee dasar, pas dapet rejeki lebih bukannya ingat kurban, ingatnya batere.
Kadang gitu yaaa, kita.. ee saya maksudnya suka berat banget buat yang namanya nyisihin apa yang bukan hak kita.. kita lagi, saya..!, nyisihin buat bekal di hari akhir kelak. Belum lama, ketika carita tentang ke apes-an yang saya alami di blog ini, seorang teman sempat kirim comment singkat tapi sangat berarti bagi saya. Dia bilang 'zakat nya kurang tuh'.. tak pikir-pikir benar juga, thank pren dah ngingatin. Tadinya bukannya ga ngeluarin zakat, saya biasanya ngeluarin tiap bulan sebagai zakat penghasilan, tapi saya lupa ngitung kalau saya juga punya tabungan yang telah wajib dikeluarin zakatnya. Sama dengan anggaran buat beli kambing, kebetulan zakat ini juga ga teranggarkan, yaaa pengelolaan dana seperti ini yang pasti telah menyalahi aturan pembukuan dimana tidak menganggarkan dana yang seharusnya wajib dikeluarkan.
Jadi gimana niy kambing.. moga-moga taun depan saya ga lupa akan dirimu lagi yaa bing, sing sabar yaa, taun depan dirimu pasti mati.. hehehe..
Monday, December 10, 2007
Khusyuk
Sebenarnya lagi banyak ide yang ingin ditulis, mulai dari yang serius masalah rencana pemerintah mengalihkan sebagian SPBU untuk tidak lagi melayani premium biasa (premium oktan 88) atau tulisan yang agak serius tentang banyak teman yang lagi pada sedih. Tapi itu ntar aja, berhubung sekarang udah hampir setengah dua malem, barusan habis nyetrika.. kasian banget yaaa jam satu masih nyetrika baju sendiri. Tapi ga papa, namanya juga mandiri.. hik..hik..plis bantuin ^^
Ooo yaaa tulisan singkat kali ini saya akan coba ngasih sedikit tips tentang shalat khusyuk. Ide ini muncul ketika tadi shalat Isya, saya udah lama ga shalat khusyuk, ga tau kepala terlalu banyak isinya sehingga tetap kebawa ketika shalat.
Beragam cara orang melakakun shalat agar didapat apa yang namanya shalat khusyuk, sementara masih banyak orang mungkin termasuk saya masih bingung, yang dimaksud shalat khusyuk itu sendiri apa, trus gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Kalau saya pribadi menyimpulkan arti shalat khusyuk itu adalah menempatkan shalat sebagai moment antara kita dengan yang Diatas, moment dimana kita memujiNya, berbicara dan mengadukan segalanya kepadanya.
Trus, gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Ada orang yang bilang, agar bisa khusyuk kita harus bisa mengerti makna semua bacaan. Yang ini ga salah juga, tapi ada satu kelemahan dengan ini, dan nanti akan saya ulas setelah saya mengutarakan tips mudah untuk khusyuk. Naah tentang bagaimana shalat yang khusyuk itu sendiri, bagi saya pribadi ada 2 tahap yang saling berkiatan yaitu;
1. Proses sebelum shalat
Ini semacam pra kondisi sebelum kita shalat. Saya terinspirasi dengan ucapan ustadz Nazaruddin Umar, seorang pakar tasawuf dalam sebuah wawancara di acara ramadhan di MetroTV pada ramadhan yang lalu. Sang Ustadz bilang bahwa khusyuk itu sendiri sebenarnya merupakan proses, tidak hanya terpusat pada saat shalat itu sendiri. Beliau menggambarkan, bagaimana sebelum shalat itu ada azan, shalat sunat, qamat dan baru shalat itu sendiri. Apa makna dari proses itu sendiri adalah pengkondisian bahwa sebelum bisa benar-benar bisa berbicara dengan Tuhan melalui shalat, kita sebaiknya memulai dengan proses tersebut sehingga dengan azan, shalat sunnat dan qamat, kita bisa sejenak melupakan hal duniawi sehingga kita akan konsentrasi untuk shalatnya sendiri.
Ribet yaaa, simplenya gini, bayangkan kalau kita abis banyak kerjaan, trus buru-buru wudhu dan langsung shalat, pasti kerjaan yang barusan dikerjain kebawa ke shalat, betuull... (dengan logat Zainuddin MZ). Naah bandingin dengan kita ketika kerja, denger azan, kita wudhu, trus shalat sunat dulu, trus denger qamat, baru shalat, tentu akan sangat beda, karena kita telah melewati beberapa proses, kerjaan yang tadi masih nyantol di otak sedikit banyak lupa pada saat kita shalat.
2. Pada saat shalat
Pada saat shalat itu sendiri, bagi saya sangat simple walau susah dilakuin. Seperti telah diutarakan pada proses pertama, dengan kita melupakan sejenak kegiatan duniawi, sebenarnya kita bisa lebih konsentrasi dengan shalat itu sendiri. Naah kalau saya pribadi, cara supaya khusyuk adalah dengan benar-benar memperhatikan bacaan shalat. Misal kita baca bismillah, yaa konsentrasi pada pelafazan bismillah itu sendiri. Jangan konsentrasi untuk melakukan translate ke bahasa indonesia, misal pas baca bismillah, otak kita bekerja menterjemahkan menjadi 'dengan nama Allah' pasti konsentrasi akan terpecah dua, yang satu melafazkan ayat, yang satu menterjemahkan. Nah disitu menurut saya yang menjadi kelemahan kalau kita memaknai khusyuk itu dengan mengerti arti ayat-per ayat. Pengalaman pribadi sendiri, ketika kita benar-benar konsentrasi kepada pelafazan bacaan-bacaan dalam shalat, ada perasaan tenang dan tubuh berasa lebih segar, serasa ada yang meniupkan hawa dingin yang mengademkan tubuh. Itu pengalaman pribadi aja, masing-masing kita mungkin akan beda. Tapi dari sana saya percaya bahwa sebenarnya bacaan shalat itu sebenarnya punya sesuatu kekuatan sendiri, seperti membaca Al-Qur'an, tanpa mengetahui arti bacaan itu sendiri, dengan membaca kita merasa lebih tenang, padahal kita tidak mengerti apa yang kita baca sebelum kita baca terjemahannya. Disana menurut saya salah satu mukjizat ayat Al-Qur'an, karena itu bacaan berasal dari yang Diatas, sehingga memberi efek yang beda pada diri kita yang membacanya, begitu juga dengan bacaan-bacaan yang ada dalam shalat. Hayuk, siapa yang udah lama ga baca Al-Qur'an, jangan pas puasa aja rajin baca Al-Qur'an ^^
Naah itu dikit tips khusyuk, masing-masing kita mungkin punya pengalaman beda-beda dan cara yang beda-beda. Tapi disini saya cuma coba sharing pengalaman pribadi, siapa tau teman-teman ada yang pengen coba dan berhasil.
Sedikit info aja, di buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq saya sempat baca, Umar ra sendiri pernah berkata bahwa kita tidak bisa benar-benar melupakan hal-hal yang duniawi pada shalat kita shalat, seperti katanya dia kadang menyusun strategi perang pada saat sedang shalat. Naah, seperti kita tau ibadah shalat para sahabat tersebut adalah cara beribadah kedua terbaik setelah Rasulullah saw sendiri. Kalau sahabat sendiri khusyuk dalam shalat masih saja teringat dunia, berarti wajar jika sedikit banyak kita masih suka ingat hal-hal duniawi dalam shalat tapi yang terpenting bagaimana kita bisa mengurangi porsinya sehingga waktu shalat menjadi waktu special antara kita dengan Dia, toh cuma 10 menit dikali 5 kali sehari, cuma 50 menit dari 1440 menit yang kita punya perharinya, seberapa siy, kok masih susah menyisihkannya, wallahu'alam
Daah akh, dah jam 2.20, panjang juga yaaa, padahal tadi rencananya cuma tulisan singkat hehehe..... good sleep boy ^^
Ooo yaaa tulisan singkat kali ini saya akan coba ngasih sedikit tips tentang shalat khusyuk. Ide ini muncul ketika tadi shalat Isya, saya udah lama ga shalat khusyuk, ga tau kepala terlalu banyak isinya sehingga tetap kebawa ketika shalat.
Beragam cara orang melakakun shalat agar didapat apa yang namanya shalat khusyuk, sementara masih banyak orang mungkin termasuk saya masih bingung, yang dimaksud shalat khusyuk itu sendiri apa, trus gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Kalau saya pribadi menyimpulkan arti shalat khusyuk itu adalah menempatkan shalat sebagai moment antara kita dengan yang Diatas, moment dimana kita memujiNya, berbicara dan mengadukan segalanya kepadanya.
Trus, gimana agar bisa khusyuk dalam shalat. Ada orang yang bilang, agar bisa khusyuk kita harus bisa mengerti makna semua bacaan. Yang ini ga salah juga, tapi ada satu kelemahan dengan ini, dan nanti akan saya ulas setelah saya mengutarakan tips mudah untuk khusyuk. Naah tentang bagaimana shalat yang khusyuk itu sendiri, bagi saya pribadi ada 2 tahap yang saling berkiatan yaitu;
1. Proses sebelum shalat
Ini semacam pra kondisi sebelum kita shalat. Saya terinspirasi dengan ucapan ustadz Nazaruddin Umar, seorang pakar tasawuf dalam sebuah wawancara di acara ramadhan di MetroTV pada ramadhan yang lalu. Sang Ustadz bilang bahwa khusyuk itu sendiri sebenarnya merupakan proses, tidak hanya terpusat pada saat shalat itu sendiri. Beliau menggambarkan, bagaimana sebelum shalat itu ada azan, shalat sunat, qamat dan baru shalat itu sendiri. Apa makna dari proses itu sendiri adalah pengkondisian bahwa sebelum bisa benar-benar bisa berbicara dengan Tuhan melalui shalat, kita sebaiknya memulai dengan proses tersebut sehingga dengan azan, shalat sunnat dan qamat, kita bisa sejenak melupakan hal duniawi sehingga kita akan konsentrasi untuk shalatnya sendiri.
Ribet yaaa, simplenya gini, bayangkan kalau kita abis banyak kerjaan, trus buru-buru wudhu dan langsung shalat, pasti kerjaan yang barusan dikerjain kebawa ke shalat, betuull... (dengan logat Zainuddin MZ). Naah bandingin dengan kita ketika kerja, denger azan, kita wudhu, trus shalat sunat dulu, trus denger qamat, baru shalat, tentu akan sangat beda, karena kita telah melewati beberapa proses, kerjaan yang tadi masih nyantol di otak sedikit banyak lupa pada saat kita shalat.
2. Pada saat shalat
Pada saat shalat itu sendiri, bagi saya sangat simple walau susah dilakuin. Seperti telah diutarakan pada proses pertama, dengan kita melupakan sejenak kegiatan duniawi, sebenarnya kita bisa lebih konsentrasi dengan shalat itu sendiri. Naah kalau saya pribadi, cara supaya khusyuk adalah dengan benar-benar memperhatikan bacaan shalat. Misal kita baca bismillah, yaa konsentrasi pada pelafazan bismillah itu sendiri. Jangan konsentrasi untuk melakukan translate ke bahasa indonesia, misal pas baca bismillah, otak kita bekerja menterjemahkan menjadi 'dengan nama Allah' pasti konsentrasi akan terpecah dua, yang satu melafazkan ayat, yang satu menterjemahkan. Nah disitu menurut saya yang menjadi kelemahan kalau kita memaknai khusyuk itu dengan mengerti arti ayat-per ayat. Pengalaman pribadi sendiri, ketika kita benar-benar konsentrasi kepada pelafazan bacaan-bacaan dalam shalat, ada perasaan tenang dan tubuh berasa lebih segar, serasa ada yang meniupkan hawa dingin yang mengademkan tubuh. Itu pengalaman pribadi aja, masing-masing kita mungkin akan beda. Tapi dari sana saya percaya bahwa sebenarnya bacaan shalat itu sebenarnya punya sesuatu kekuatan sendiri, seperti membaca Al-Qur'an, tanpa mengetahui arti bacaan itu sendiri, dengan membaca kita merasa lebih tenang, padahal kita tidak mengerti apa yang kita baca sebelum kita baca terjemahannya. Disana menurut saya salah satu mukjizat ayat Al-Qur'an, karena itu bacaan berasal dari yang Diatas, sehingga memberi efek yang beda pada diri kita yang membacanya, begitu juga dengan bacaan-bacaan yang ada dalam shalat. Hayuk, siapa yang udah lama ga baca Al-Qur'an, jangan pas puasa aja rajin baca Al-Qur'an ^^
Naah itu dikit tips khusyuk, masing-masing kita mungkin punya pengalaman beda-beda dan cara yang beda-beda. Tapi disini saya cuma coba sharing pengalaman pribadi, siapa tau teman-teman ada yang pengen coba dan berhasil.
Sedikit info aja, di buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq saya sempat baca, Umar ra sendiri pernah berkata bahwa kita tidak bisa benar-benar melupakan hal-hal yang duniawi pada shalat kita shalat, seperti katanya dia kadang menyusun strategi perang pada saat sedang shalat. Naah, seperti kita tau ibadah shalat para sahabat tersebut adalah cara beribadah kedua terbaik setelah Rasulullah saw sendiri. Kalau sahabat sendiri khusyuk dalam shalat masih saja teringat dunia, berarti wajar jika sedikit banyak kita masih suka ingat hal-hal duniawi dalam shalat tapi yang terpenting bagaimana kita bisa mengurangi porsinya sehingga waktu shalat menjadi waktu special antara kita dengan Dia, toh cuma 10 menit dikali 5 kali sehari, cuma 50 menit dari 1440 menit yang kita punya perharinya, seberapa siy, kok masih susah menyisihkannya, wallahu'alam
Daah akh, dah jam 2.20, panjang juga yaaa, padahal tadi rencananya cuma tulisan singkat hehehe..... good sleep boy ^^
Monday, November 26, 2007
Right thing
Saya lupa kapan terakhir kali doing right thing sebelum hari ini, tapi hari ini saya rasa melakukannya walau itu sangat nyakitin.. hik..hik.. Baru kali ini saya merasa ternyata tidak semua perbuatan baik itu enak dilakukan. Tapi yang pasti kalau kita berpegang teguh akan apa yang dipercaya sebagai suatu yang benar, kita akan tetap melakukan, lagi walau sangat berat.. berat pisan coy.. hihihi..
Di blog ini saya sering kali menulis hal-hal yang menurut saya baik, hal ideal yang cuma ada dalam pikiran, dan blog ini saya jadikan sebagai pengingat bagi saya pribadi kelak bahwa saya pernah punya pikiran seperti itu. Dan ada saatnya tulisan itu butuh pembuktian, dan tadi itulah pembuktiannya.. sejauh ini saya bisa melewatinya, ga tau besok ^^
Saya sering diskusi sama teman terutama seputar pernikahan, kadang mereka yang akan menikah sangat banyak diberi cobaan dan godaan, dan kita menyakini bahwa semua itu adalah wujud ujian karena kita akan naik kelas yang namanya pernikahan. Apa perbuatan baik saya tadi itu merupakan salah satu ujian untuk naik kelas, so kapan naik kelasnya.. !@#$%
Terlepas dari hal yang prinsipil, saya sebenarnya termasuk orang yang sangat toleran, sebagai contoh bagi teman-teman yang alim pasti tau bersentuhan seperti salaman sama yang bukan mukrim pasti pada ga mau, tapi saya tidak begitu ketat akan hal ini karena menurut saya bersentuhan berupa salaman adalah wujud awal dari silaturahmi, dan saya lebih mengedepankan silaturahmi. Yang agak susah saya terima yaa bersentuhan seperti ABG pacaran sekarang seperti yang saya liat pada saat nonton pagelaran musik sabtu kemaren..hihihi.. bikin merinding, maklum orang kampung, masih kolot siy.. ^^ . Contoh lain, kalau kita lagi shalat berjamaah, kadang kondisi ruangan tidak memungkinkan kita benar-benar menerapkan apa yang namanya aturan berjamaah seperti harus rapat antar jamaah. Terkadang, demi dapat memuat banyak, orang-orang terpaksa berdiri misah-misah, dan tidak lurus. Beberapa orang kekeh bahwa berdiri terpisah itu tidak di syara' kan, tapi menurut saya dalam kondisi tertentu, bukannya semakin banyak orang yang berjamaah jauh lebih baik daripada sekedar meributkan masalah kerapian shalat berjamaah.
Dah akh, tiduur, sebenarnya tulisan diatas dah ngelantur, tapi masih syukur ngelantur nya ga jauh-jauh amat. Met bobo.. miss u.. lo ke siapa tuh ^^
Di blog ini saya sering kali menulis hal-hal yang menurut saya baik, hal ideal yang cuma ada dalam pikiran, dan blog ini saya jadikan sebagai pengingat bagi saya pribadi kelak bahwa saya pernah punya pikiran seperti itu. Dan ada saatnya tulisan itu butuh pembuktian, dan tadi itulah pembuktiannya.. sejauh ini saya bisa melewatinya, ga tau besok ^^
Saya sering diskusi sama teman terutama seputar pernikahan, kadang mereka yang akan menikah sangat banyak diberi cobaan dan godaan, dan kita menyakini bahwa semua itu adalah wujud ujian karena kita akan naik kelas yang namanya pernikahan. Apa perbuatan baik saya tadi itu merupakan salah satu ujian untuk naik kelas, so kapan naik kelasnya.. !@#$%
Terlepas dari hal yang prinsipil, saya sebenarnya termasuk orang yang sangat toleran, sebagai contoh bagi teman-teman yang alim pasti tau bersentuhan seperti salaman sama yang bukan mukrim pasti pada ga mau, tapi saya tidak begitu ketat akan hal ini karena menurut saya bersentuhan berupa salaman adalah wujud awal dari silaturahmi, dan saya lebih mengedepankan silaturahmi. Yang agak susah saya terima yaa bersentuhan seperti ABG pacaran sekarang seperti yang saya liat pada saat nonton pagelaran musik sabtu kemaren..hihihi.. bikin merinding, maklum orang kampung, masih kolot siy.. ^^ . Contoh lain, kalau kita lagi shalat berjamaah, kadang kondisi ruangan tidak memungkinkan kita benar-benar menerapkan apa yang namanya aturan berjamaah seperti harus rapat antar jamaah. Terkadang, demi dapat memuat banyak, orang-orang terpaksa berdiri misah-misah, dan tidak lurus. Beberapa orang kekeh bahwa berdiri terpisah itu tidak di syara' kan, tapi menurut saya dalam kondisi tertentu, bukannya semakin banyak orang yang berjamaah jauh lebih baik daripada sekedar meributkan masalah kerapian shalat berjamaah.
Dah akh, tiduur, sebenarnya tulisan diatas dah ngelantur, tapi masih syukur ngelantur nya ga jauh-jauh amat. Met bobo.. miss u.. lo ke siapa tuh ^^
Sunday, November 25, 2007
Cerita si tukang cukur
Pernah denger cerita si tukang cukur? Saya dapat cerita ini dari seorang teman ketika ngobrolin masalah agama sehabis jum'atan minggu yang lalu. Ceritanya, suatu waktu si tukang cukur nanya ke orang yang lagi dipotong rambutnya, apakah dia percaya akan adanya pertolongan tuhan. Orang yang lagi dipotong rambutnya berkata, tidak. Pada saat itu lewat seseorang dengan rambut panjang. Si abang tukang bakso.. ee cukur berkata, 'naah coba lihat rambut orang tersebut, rambutnya panjang. Jika dia pengen rambutnya pendek, dia harus menghampiri tukan cukur untuk minta dipotongin'. 'Begitulah bentuk bantuan Tuhan' kata si tukang cukur, perumpamaan orang berambut panjang yang ingin dipotong rambutnya sebagai seseorang yang ingin meminta kepada Tuhannya, dan tukang cukur sebagai Tuhan, orang berambut panjang harus datang kepada tukang cukur untuk bisa mendapatkan bantuannya. Begitulah, kita harus datang kepada-Nya dengan cara memohon kepada-Nya untuk mendapatkan pertolongan, karena pertolongan itu tidak akan datang tanpa diminta.
Kisah diatas sebenarnya berkaitan dengan do'a. Kepikiran tentang bagaimana berdo'a ini sebenarnya berawal kita kemaren tiba-tiba kepikiran untuk mendo'akan seseorang agar dia diberi 'jalan ini' bukan 'jalan itu'. Pada saat itu tiba-tiba kepikiran, kenapa saya harus menentukan jalan 'ini' tersebut sebagai jalan untuknya, seberapa dalam pengetahuan saya yang hanya seorang manusia untuk menentukan jalan terbaik untuk seseorang, makanya saya jadi kepikiran untuk secara total menyerahkan kepada-Nya, siapa tau 'jalan itu' ternyata rahasia-Nya dan merupakan jalan yang sudah digariskan oleh-Nya. Makanya kepikiran bahwa sesungguhnya tugas saya cuma berdo'a apapun 'jalan' yang dipilihkan untuk dia adalah jalan terbaik yang akan mendekatkan dirinya pada yang Diatas, bukan jalan yang menyesatkan. Baik banget yaa, orang kok dido'a-in, tuu khan jadi ria, memuji-muji diri sendiri ^^
Ada lagi yang menarik sehingga saya kepikiran menulis posting ini adalah ketika barusan melakukan ibadah shalat sunnah, saya sempat berpikir kenapa yaa pada saat shalat sunnah kali ini saya tidak begitu banyak kepikir untuk meminta. Dalam kondisi tertentu, ketika mengalami banyak masalah, saya sering datang pada-Nya melalui shalat dan memohon ini dan itu, dan ketika semua masalah itu lewat, saya sepertinya bingung untuk minta apalagi.
Ada yang salah dengan cara berdo'a seperti ini, do'a yang hanya untuk meminta sesuai dengan yang kita inginkan, dan ketika semua keinginan itu tercapai, saya sepertinya bingung mau minta apalagi (tapi syukur alhamdulillah dengan tetap beribadah berarti saya masih mampir kerumah-Nya walau bukan untuk meminta, semata untuk mendekatkan diri kepada-Nya, hanya sekedar mengobrol dengan-Nya).. Apa yang salah dengan cara saya berdo'a..? saya takut semua permintaan itu hanya nafsu saya sebagai manusia, dan kadang Allah akan mengabulkan sementara sebenarnya bukan itu yang terbaik untuk saya sebagai umatnya. Makanya, dalam banyak do'a diajarkan agar kita selalu meminta jalan keluar yang terbaik menurut-Nya bukan menurut kita.
Tapi terkadang, hal itu tetap dilanggar, misal masih sering saya meminta "yaa Allah jadikanlah 'ini' seperti 'ini' dan jadikan 'ini' tersebut sebagai jalan terbaik menurutMu" apakah benar 'ini' tersebut yang saya minta adalah jalan terbaik, tapi saya tetap maksa kepada-Nya agar 'ini' dijadikan sebagai jalan Terbaik. Padahal 'ini' tersebut hanya pengetahuan saya yang terbatas, sementara Dirinya maha mengetahui apa sesungguhnya yang terbaik.
Sepertinya saya kudu buka-buka lagi niy buku tentang bagaimana Rasulullah saw atau para sahabat berdo'a. Rasulullah saw aja yang udah ada jaminan surga tetap aja menangis setiap kali berdo'a seolah-olah semua amalannya tidak ada arti di hadapan-Nya. Hmm.. cari dimana yaa?
Dah akh, kerja..kerja..kerja.. happy monday all ^^
Kisah diatas sebenarnya berkaitan dengan do'a. Kepikiran tentang bagaimana berdo'a ini sebenarnya berawal kita kemaren tiba-tiba kepikiran untuk mendo'akan seseorang agar dia diberi 'jalan ini' bukan 'jalan itu'. Pada saat itu tiba-tiba kepikiran, kenapa saya harus menentukan jalan 'ini' tersebut sebagai jalan untuknya, seberapa dalam pengetahuan saya yang hanya seorang manusia untuk menentukan jalan terbaik untuk seseorang, makanya saya jadi kepikiran untuk secara total menyerahkan kepada-Nya, siapa tau 'jalan itu' ternyata rahasia-Nya dan merupakan jalan yang sudah digariskan oleh-Nya. Makanya kepikiran bahwa sesungguhnya tugas saya cuma berdo'a apapun 'jalan' yang dipilihkan untuk dia adalah jalan terbaik yang akan mendekatkan dirinya pada yang Diatas, bukan jalan yang menyesatkan. Baik banget yaa, orang kok dido'a-in, tuu khan jadi ria, memuji-muji diri sendiri ^^
Ada lagi yang menarik sehingga saya kepikiran menulis posting ini adalah ketika barusan melakukan ibadah shalat sunnah, saya sempat berpikir kenapa yaa pada saat shalat sunnah kali ini saya tidak begitu banyak kepikir untuk meminta. Dalam kondisi tertentu, ketika mengalami banyak masalah, saya sering datang pada-Nya melalui shalat dan memohon ini dan itu, dan ketika semua masalah itu lewat, saya sepertinya bingung untuk minta apalagi.
Ada yang salah dengan cara berdo'a seperti ini, do'a yang hanya untuk meminta sesuai dengan yang kita inginkan, dan ketika semua keinginan itu tercapai, saya sepertinya bingung mau minta apalagi (tapi syukur alhamdulillah dengan tetap beribadah berarti saya masih mampir kerumah-Nya walau bukan untuk meminta, semata untuk mendekatkan diri kepada-Nya, hanya sekedar mengobrol dengan-Nya).. Apa yang salah dengan cara saya berdo'a..? saya takut semua permintaan itu hanya nafsu saya sebagai manusia, dan kadang Allah akan mengabulkan sementara sebenarnya bukan itu yang terbaik untuk saya sebagai umatnya. Makanya, dalam banyak do'a diajarkan agar kita selalu meminta jalan keluar yang terbaik menurut-Nya bukan menurut kita.
Tapi terkadang, hal itu tetap dilanggar, misal masih sering saya meminta "yaa Allah jadikanlah 'ini' seperti 'ini' dan jadikan 'ini' tersebut sebagai jalan terbaik menurutMu" apakah benar 'ini' tersebut yang saya minta adalah jalan terbaik, tapi saya tetap maksa kepada-Nya agar 'ini' dijadikan sebagai jalan Terbaik. Padahal 'ini' tersebut hanya pengetahuan saya yang terbatas, sementara Dirinya maha mengetahui apa sesungguhnya yang terbaik.
Sepertinya saya kudu buka-buka lagi niy buku tentang bagaimana Rasulullah saw atau para sahabat berdo'a. Rasulullah saw aja yang udah ada jaminan surga tetap aja menangis setiap kali berdo'a seolah-olah semua amalannya tidak ada arti di hadapan-Nya. Hmm.. cari dimana yaa?
Dah akh, kerja..kerja..kerja.. happy monday all ^^
Monday, November 12, 2007
Poor Me
Berusan kepikiran, apa siy perbuatan baik dan bermanfaat bagi orang-orang yang terakhir saya lakuin. Herannya, saya kok susah mengingatnya.. susah mengingat bisa berarti dua, pertama karena buanyak banget, atau yang kedua karena udah lama ga lakuin sehingga udah ga ingat. Sepertinya untuk yang pertama ga dey, brarti yang kedua.. jadi kapaan yaa.. poor me..!
Mengingat social life saya dan mungkin teman-teman yang hidup di jakarta juga merasakan hal yang sama, sepertinya sangat minim perbuatan baik dan bermanfaat, jangankan untuk orang banyak, buat satu orang sangat sulit kita bisa lakuin yaaa.. bayangin aja, brangkat pagi-pagi banget, lakuin rutinitas kerjaan kantor seharian, trus udah malem-malem seperti sekarang baru pulang. Jadi kapan waktu untuk melakukan hal yang bermanfaat.
Bersyukurlah mereka yang telah berkeluarga dan punya anak-istri, karena apa yang dilakuin mulai brangkat pagi-pagi hingga pulang kantor malem-malem ada tujuannya yang mulia yaitu untuk mereka, untuk memberi penghidupan yang lebih layak bagi mereka, dan syukur-syukur anak-anaknya kelak menjadi anak-anak yang shaleh dan memberikan bakti yang lebih banyak bagi lingkungannya sehingga dari sana anda akan mendapatkan sedikit fee amalan. Tapi bagaimana dengan yang belum berkeluarga.. poor me..!
Dulu, duluuu banget, ritual setiap menjelang tidur saya biasa mengingat-ngingat apa aja yang saya lakuin hari itu, kadang bete sendiri kalau keingat perbuatan konyol atau kata-kata yang ga pantes yang sempat terucap disiang harinya, saking betenya kadang jadi susah tidur. Walau begitu positip-nya dengan begitu saya bisa introspeksi untuk tidak terulang lagi di hari-hari berikutnya. Sayangnya hal yang sama tidak lagi saya lakuin sekarang. Skarang sebelum tidur saya seperti masih disibukkan oleh kerjaan atau pikiran-pikiran yan terkadang tidak perlu.. poor me..!
Terakhir, saya kadang sering merasa takut jangan-jangan apa yang saya telah lakukan, paling simple dalam 24 jam terakhir ini, ga ada artinya di catatan yang Diatas sana. 24 jam seperti hanya sebuah blog dengan cerita yang sangat biasa, tanpa makna, tidak ada yang istimewa, tidak ada satupun bagian cerita yang di highlight yang berkesan dimata yang Diatas sana. Cerita yang hayna berisi perbuatan yang tidak bermanfaat atau perbuatan-perbuatan yang hanya berorientasi dunia sehingga hanya mengisi buku-buku dunia, tanpa meninggalkan satupun guratan catatan pada buku akhirat.. lebih takut lagi jangan-jangan blog kehidupan tersebut hanya penuh oleh underline merah sebagai pertanda banyaknya dosa..poor me..!
Ati-ati.. lagi sensi..! ^^
Mengingat social life saya dan mungkin teman-teman yang hidup di jakarta juga merasakan hal yang sama, sepertinya sangat minim perbuatan baik dan bermanfaat, jangankan untuk orang banyak, buat satu orang sangat sulit kita bisa lakuin yaaa.. bayangin aja, brangkat pagi-pagi banget, lakuin rutinitas kerjaan kantor seharian, trus udah malem-malem seperti sekarang baru pulang. Jadi kapan waktu untuk melakukan hal yang bermanfaat.
Bersyukurlah mereka yang telah berkeluarga dan punya anak-istri, karena apa yang dilakuin mulai brangkat pagi-pagi hingga pulang kantor malem-malem ada tujuannya yang mulia yaitu untuk mereka, untuk memberi penghidupan yang lebih layak bagi mereka, dan syukur-syukur anak-anaknya kelak menjadi anak-anak yang shaleh dan memberikan bakti yang lebih banyak bagi lingkungannya sehingga dari sana anda akan mendapatkan sedikit fee amalan. Tapi bagaimana dengan yang belum berkeluarga.. poor me..!
Dulu, duluuu banget, ritual setiap menjelang tidur saya biasa mengingat-ngingat apa aja yang saya lakuin hari itu, kadang bete sendiri kalau keingat perbuatan konyol atau kata-kata yang ga pantes yang sempat terucap disiang harinya, saking betenya kadang jadi susah tidur. Walau begitu positip-nya dengan begitu saya bisa introspeksi untuk tidak terulang lagi di hari-hari berikutnya. Sayangnya hal yang sama tidak lagi saya lakuin sekarang. Skarang sebelum tidur saya seperti masih disibukkan oleh kerjaan atau pikiran-pikiran yan terkadang tidak perlu.. poor me..!
Terakhir, saya kadang sering merasa takut jangan-jangan apa yang saya telah lakukan, paling simple dalam 24 jam terakhir ini, ga ada artinya di catatan yang Diatas sana. 24 jam seperti hanya sebuah blog dengan cerita yang sangat biasa, tanpa makna, tidak ada yang istimewa, tidak ada satupun bagian cerita yang di highlight yang berkesan dimata yang Diatas sana. Cerita yang hayna berisi perbuatan yang tidak bermanfaat atau perbuatan-perbuatan yang hanya berorientasi dunia sehingga hanya mengisi buku-buku dunia, tanpa meninggalkan satupun guratan catatan pada buku akhirat.. lebih takut lagi jangan-jangan blog kehidupan tersebut hanya penuh oleh underline merah sebagai pertanda banyaknya dosa..poor me..!
Ati-ati.. lagi sensi..! ^^
Friday, November 09, 2007
CINTAMU
Jum'at adalah hari raya setiap minggu, seperti idul fitri setelah ramadhan, dan bagaikan shalat magrib sebagai witir-nya shalat siang, saatnya untuk mengingat jalan yang telah ditempuh dalam satu minggu, mengingat semua kekhilafan dan kealfaan. Berikut sebuah Puisi dari Gus Mus, semoga mewakili.. ciyu jakarta..
Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
Rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
Datanglah aku akan berlari menyambutmu
Tapi kau terus sibuk dengan dirimu
Kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
Tanpa meski sekedar melongokku
Kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
Lalu kau rayu aku dari kejauhan
Kau merayu dan memujaku
Bukan untuk mendapatkan cintaku
Tapi sekedar memuaskan egomu
Kau memarahi mereka
Yang berusaha mendekatiku
Seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu
Apakah karena kau cemburu buta
Atau takut mereka lebih tulus mencintaiku
Pulanglah ke dirimu
Aku tak kemana mana
Gus Mus: 2005
Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
Rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
Datanglah aku akan berlari menyambutmu
Tapi kau terus sibuk dengan dirimu
Kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
Tanpa meski sekedar melongokku
Kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
Lalu kau rayu aku dari kejauhan
Kau merayu dan memujaku
Bukan untuk mendapatkan cintaku
Tapi sekedar memuaskan egomu
Kau memarahi mereka
Yang berusaha mendekatiku
Seolah olah aku sudah menjadi kekasihmu
Apakah karena kau cemburu buta
Atau takut mereka lebih tulus mencintaiku
Pulanglah ke dirimu
Aku tak kemana mana
Gus Mus: 2005
Wednesday, October 03, 2007
Ingatkan jika salah
Lagi-lagi ngomongin masalah nikah (emang sebelumnya pernah dibahas ga yaaa masalah nikah, lupa ding ^^). Oo iya, ngomongin masalah nikah, seorang teman nasihatin saya kemaren di ym, bilangnya 'yang penting priority cari yang saleha'. Kata-kata itu mengingatkan saya pada obrolan dengan teman lainnya yang kebetulan mau nikah, dia mengakui bahwa untuk nyari yang namanya istri dia cendrung nyari yang 'save'. Konotasi save disini tidak jauh beda dengan nasehat teman di ym diatas yaitu yang shaleh.
Saya jadi mikir, jadi bagaimana dengan yang tidak shaleh? Oo yaa mungkin orang-orang berpijak pada Al-Qur'an surat An-nisa' : 26
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…"
atau mungkin pada hadist Nabi saw
"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)."
Ada dua hal yang saya sorotin dari Ayat maupun hadist diatas;
- Masalah kriteria keji dan baik dari ayat diatas. Siapa yang bisa memberi judgement seorang wanita atau laki-laki itu keji atau baik. Ada kecendrungan yang saya tangkap selama ini orang mendifinisikan sendiri baik dan keji dan kemudian membandingkan dengan dirinya, ooo si ini orangnya ga baik ga pantes buat saya, dan si itu anaknya baik, brarti pantes buat saya. Definisi baik adalah dari kacamata sendiri atau pendapat umum dan tidak pernah menggali sendiri apakah benar-benar seseorang itu sebaik atau seburuk yang dibayangkan. Parah lagi rata-rata kita berpijak bahwa diri kita sendiri adalah orang baik-baik, sehingga yang pantes buat kita juga harus yang baik-baik.
- Masalah memilih berdasarkan agamanya pada hadist diatas, ini mungkin sesuai dengan pengertian teman diatas, kata save berkaitan dengan agama dan akhlaknya yang bagus. Pertanyaan saya adalah bagaimana dengen mereka yang tidak memiliki akhlak yang tidak baik, apakah tidak pantas untuk kita?
Saya cukup terganggu dengan kedua pendapat diatas, sayang saat ini saya tidak lagi memegang tafsir Al-Misbah nya Quraish Shihab, jadi tidak mengetahui hal yang melatarbelakangi adanya ayat diatas dan sayapun tidak mendapatkan referensi di internet tentang asal-muasal hadist diatas. Pendapat pribadi saya mengenai kedua hal diatas adalah sebagai berikut;
- Masalah kriteria keji dan baik, menurut saya tidak mengacu kepada object siapa itu wanita atau laki-laki, tapi menurut saya adalah kajian untuk diri sendiri. Kita melihat tidak ke orang lain tapi menengok ke diri sendiri. Apakah kita benar-benar telah menjadi orang yang baik. Apakah kita telah menjadi hamba yang rajin beribadah, apakah kita benar-benar seseorang berakhlak yang baik, apakah hati kita benar-benar telah bersih dari semua penyakit hati. Goal-nya, kalau kita bisa mencapai, atau minimal menuju ke tahap perbaikan diri untuk hal-hal tersebut insyaallah kita dijanjikan pendamping yang juga baik menurut pilihan-Nya. Kembali, itu bukan melihat ke diri orang lain tapi adalah semacam cermin diri, introspeksi diri. Jangan berhenti untuk menjadi lebih baik kalau ingin mendapatkan yang terbaik ^^
- Masalah hadist 'memilih agamanya', menurut saya itu adalah masalah pilihan terbaik jika kita memiliki suatu rasa ragu akan 4 kriteria yang ada. Tapi kadang kita memiliki niat yang berbeda-beda dan menurut saya tiga kriteria lainnya juga boleh menjadi opsi pilihan asalkan niat tersebut lillahi ta'ala, berdasarkan tujuan yang mulia. Kalau ga salah dulu ada kisah seseorang menikah dengan alasan mengejar derajat kebangsawanan untuk tujuan untuk mempermudah penyebaran agama Islam, bukankah pilihan tersebut jauh lebih mulia daripada sekedar mendapatkan seseorang yang shaleh untuk memperkaya amalan sendiri sementara orang disekililing masih bergelut dengan dosa. Satu lagi, kalau semua yang baik agamanya untuk orang yang baik juga, bagaimana dengan mereka yang agamanya tidak baik? Akankah lebih mulia kalau kita memilih seseorang untuk menyempurnakan agamanya. Sering saya baca hadist ini diangkat untuk menunjukkan bahwa nobody perfect maka dianjurkan untuk milih yang agamanya lebih baik. Kenapa tidak kita coba balikkan, kalau memang tidak ada yang perfect, kenapa kita tidak memilih mereka yang agamanya belum sempurna untuk kita coba sempurnakan dan dengan niat seperti itu kita juga mungkin akan diberikan seseorang yang akan menyempurnakan agama kita, karena jika kita sendiri bilang nobody perfect berarti kita juga tidak sempurna dan dengan itu disempurnakan agama kita, Wallahu'alam.. mohon ingatkan jika pendapat diatas salah ^^
Saya jadi mikir, jadi bagaimana dengan yang tidak shaleh? Oo yaa mungkin orang-orang berpijak pada Al-Qur'an surat An-nisa' : 26
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…"
atau mungkin pada hadist Nabi saw
"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : karena kecantikannya, karena keturunannya, karena kekayaannya, dan karena agamanya. Menangkanlah dengan memilih agamanya maka taribat yadaaka (kembali kepada fitrah atau beruntung)."
Ada dua hal yang saya sorotin dari Ayat maupun hadist diatas;
- Masalah kriteria keji dan baik dari ayat diatas. Siapa yang bisa memberi judgement seorang wanita atau laki-laki itu keji atau baik. Ada kecendrungan yang saya tangkap selama ini orang mendifinisikan sendiri baik dan keji dan kemudian membandingkan dengan dirinya, ooo si ini orangnya ga baik ga pantes buat saya, dan si itu anaknya baik, brarti pantes buat saya. Definisi baik adalah dari kacamata sendiri atau pendapat umum dan tidak pernah menggali sendiri apakah benar-benar seseorang itu sebaik atau seburuk yang dibayangkan. Parah lagi rata-rata kita berpijak bahwa diri kita sendiri adalah orang baik-baik, sehingga yang pantes buat kita juga harus yang baik-baik.
- Masalah memilih berdasarkan agamanya pada hadist diatas, ini mungkin sesuai dengan pengertian teman diatas, kata save berkaitan dengan agama dan akhlaknya yang bagus. Pertanyaan saya adalah bagaimana dengen mereka yang tidak memiliki akhlak yang tidak baik, apakah tidak pantas untuk kita?
Saya cukup terganggu dengan kedua pendapat diatas, sayang saat ini saya tidak lagi memegang tafsir Al-Misbah nya Quraish Shihab, jadi tidak mengetahui hal yang melatarbelakangi adanya ayat diatas dan sayapun tidak mendapatkan referensi di internet tentang asal-muasal hadist diatas. Pendapat pribadi saya mengenai kedua hal diatas adalah sebagai berikut;
- Masalah kriteria keji dan baik, menurut saya tidak mengacu kepada object siapa itu wanita atau laki-laki, tapi menurut saya adalah kajian untuk diri sendiri. Kita melihat tidak ke orang lain tapi menengok ke diri sendiri. Apakah kita benar-benar telah menjadi orang yang baik. Apakah kita telah menjadi hamba yang rajin beribadah, apakah kita benar-benar seseorang berakhlak yang baik, apakah hati kita benar-benar telah bersih dari semua penyakit hati. Goal-nya, kalau kita bisa mencapai, atau minimal menuju ke tahap perbaikan diri untuk hal-hal tersebut insyaallah kita dijanjikan pendamping yang juga baik menurut pilihan-Nya. Kembali, itu bukan melihat ke diri orang lain tapi adalah semacam cermin diri, introspeksi diri. Jangan berhenti untuk menjadi lebih baik kalau ingin mendapatkan yang terbaik ^^
- Masalah hadist 'memilih agamanya', menurut saya itu adalah masalah pilihan terbaik jika kita memiliki suatu rasa ragu akan 4 kriteria yang ada. Tapi kadang kita memiliki niat yang berbeda-beda dan menurut saya tiga kriteria lainnya juga boleh menjadi opsi pilihan asalkan niat tersebut lillahi ta'ala, berdasarkan tujuan yang mulia. Kalau ga salah dulu ada kisah seseorang menikah dengan alasan mengejar derajat kebangsawanan untuk tujuan untuk mempermudah penyebaran agama Islam, bukankah pilihan tersebut jauh lebih mulia daripada sekedar mendapatkan seseorang yang shaleh untuk memperkaya amalan sendiri sementara orang disekililing masih bergelut dengan dosa. Satu lagi, kalau semua yang baik agamanya untuk orang yang baik juga, bagaimana dengan mereka yang agamanya tidak baik? Akankah lebih mulia kalau kita memilih seseorang untuk menyempurnakan agamanya. Sering saya baca hadist ini diangkat untuk menunjukkan bahwa nobody perfect maka dianjurkan untuk milih yang agamanya lebih baik. Kenapa tidak kita coba balikkan, kalau memang tidak ada yang perfect, kenapa kita tidak memilih mereka yang agamanya belum sempurna untuk kita coba sempurnakan dan dengan niat seperti itu kita juga mungkin akan diberikan seseorang yang akan menyempurnakan agama kita, karena jika kita sendiri bilang nobody perfect berarti kita juga tidak sempurna dan dengan itu disempurnakan agama kita, Wallahu'alam.. mohon ingatkan jika pendapat diatas salah ^^
Saturday, September 29, 2007
Tembok
Ada yang beda di Ramadhan kali ini. Alhamdulillah Ramadhan ini memberi berkah terbesar bagi saya yaitu dapat kembali ke masjid. Setelah hampir 7 tahun absen, saya akhirnya diberi kekuatan buat merobohkan tembok yang seperti menghalangi saya untuk datang ke masjid. Perubahan itu terjadi kira-kira 3 hari yang lalu, ketika shalat Isya dirumah, kemudian entah kenapa saya rindu untuk shalat sunat dua rakaat setelah Isya dan ketika shalat tersebut muncul suatu pemikiran untuk mencoba kembali shalat ke masjid dan dimulai besoknya ketika shalat subuh dan alhamdulillah paginya saya diberi kekuatan untuk melakukannya.
Bicara masalah shalat di masjid, dari kecil sebenarnya saya terbiasa melakukan shalat di masjid, tapi baru benar-benar rutin ketika kuliah di Bandung. Suasana keislaman di Bandung yang sangat cocok dengan saya, keterbukaan akan perbedaan, dan semangat para mahasiswa khususnya untuk memperdalam Islam menjadi support tidak langsung bagi saya untuk juga mendekat kepada-Nya yang salah satunya dengan selalu menghadiri shalat berjamaah di masjid.
Kebiasaan ini tiba-tiba berubah ketika saya pindah ke Jakarta, awalnya lebih disebabkan posisi rumah kontrakan waktu itu yang jauh dari masjid tepatnya mushalla dan untuk mencapainya perlu melewati daerah yang menurut saya kurang aman khususnya buat melakukan shalat subuh. Selain itu masyarakat didaerah tersebut yang juga tidak begitu memakmurkan masjid, sehingga mushalla tersebut sering sepi jama'ah. Akhirnya dengan kondisi tersebut saya jadi jarang menghadiri shalat di musjid, itu berlangung 4 tahun sebelum saya pindah ke kontrakan sekarang 3 tahun yang lalu.
Kebiasaan meninggalkan shalat berjamaah di masjid selama 4 tahun tersebut, yang menurut hadist bahwa sebaik-baiknya shalat untuk pria adalah dirumah sementara untuk wanita adalah dirumah, sepertinya lama-lama membangun suatu tembok yang memisahkan saya dengan mesjid setelah berada di kontrakan sekarang yang jarak ke masjidnya tidak terlalu jauh. Terkadang ada muncul keinginan untuk kembali ke masjid, tapi sepertinya godaan, tarikan untuk tidak mengayunkan langkah mengambil wudhu dan brangkat ke masjid ketika adzan memanggil lebih besar. Ditambah adanya barrier yang menyebabkan diri malas untuk menunjukkan suatu perubahan. Tapi alhamdulillah di ramadhan sekarang saya diberi kekuatan untuk berubah.
Ada rasa yang sama yang saya dapatkan ketika kembali hadir dalam majelis shalat berjamaah di masjid, rasa yang 7 tahun yang lalu yang biasa saya alami, rasa yang agak sulit digambarkan tapi lebih kepada rasa yang sangat personal, rasa antara saya dengan-Nya. Sepertinya ada rasa haru yang tidak saya ketahui penyebabnya, apakah itu merupakan ekspresi akan dosa-dosa selama ini, wallahu'alam, dan yang jelas membuat hati lebih dingin dan tentram.
Entah memang udah jalannya atau suatu kebetulan, pada hari yang sama ketika saya kembali ke masjid, siangnya sesuatu yang menurut saya sangat berharga dan telah lama saya jaga tiba-tiba hilang, tapi anehnya saya merasa ada suatu ketenangan dalam hati yang sepertinya diberikan-Nya sehingga saya tidak merasakan suatu rasa kehilangan yang begitu besar. Itulah rahmat yang saya rasakan hari itu, dan dari dulu saya selalu meyakini bahwa rahmat-Nya bisa dalam bentuk berbeda-beda dan selalu ditunjukkan lebih indah dari yang dibayangkan, wallahu'alam.
Moga di sisa puasa ini saya dapat lebih memperbaharui diri dalam hubungan dengan-Nya, dan menjadi kado terbesar dari-Nya di ramadhan kali ini. Bagaimana dengan anda ^^
Bicara masalah shalat di masjid, dari kecil sebenarnya saya terbiasa melakukan shalat di masjid, tapi baru benar-benar rutin ketika kuliah di Bandung. Suasana keislaman di Bandung yang sangat cocok dengan saya, keterbukaan akan perbedaan, dan semangat para mahasiswa khususnya untuk memperdalam Islam menjadi support tidak langsung bagi saya untuk juga mendekat kepada-Nya yang salah satunya dengan selalu menghadiri shalat berjamaah di masjid.
Kebiasaan ini tiba-tiba berubah ketika saya pindah ke Jakarta, awalnya lebih disebabkan posisi rumah kontrakan waktu itu yang jauh dari masjid tepatnya mushalla dan untuk mencapainya perlu melewati daerah yang menurut saya kurang aman khususnya buat melakukan shalat subuh. Selain itu masyarakat didaerah tersebut yang juga tidak begitu memakmurkan masjid, sehingga mushalla tersebut sering sepi jama'ah. Akhirnya dengan kondisi tersebut saya jadi jarang menghadiri shalat di musjid, itu berlangung 4 tahun sebelum saya pindah ke kontrakan sekarang 3 tahun yang lalu.
Kebiasaan meninggalkan shalat berjamaah di masjid selama 4 tahun tersebut, yang menurut hadist bahwa sebaik-baiknya shalat untuk pria adalah dirumah sementara untuk wanita adalah dirumah, sepertinya lama-lama membangun suatu tembok yang memisahkan saya dengan mesjid setelah berada di kontrakan sekarang yang jarak ke masjidnya tidak terlalu jauh. Terkadang ada muncul keinginan untuk kembali ke masjid, tapi sepertinya godaan, tarikan untuk tidak mengayunkan langkah mengambil wudhu dan brangkat ke masjid ketika adzan memanggil lebih besar. Ditambah adanya barrier yang menyebabkan diri malas untuk menunjukkan suatu perubahan. Tapi alhamdulillah di ramadhan sekarang saya diberi kekuatan untuk berubah.
Ada rasa yang sama yang saya dapatkan ketika kembali hadir dalam majelis shalat berjamaah di masjid, rasa yang 7 tahun yang lalu yang biasa saya alami, rasa yang agak sulit digambarkan tapi lebih kepada rasa yang sangat personal, rasa antara saya dengan-Nya. Sepertinya ada rasa haru yang tidak saya ketahui penyebabnya, apakah itu merupakan ekspresi akan dosa-dosa selama ini, wallahu'alam, dan yang jelas membuat hati lebih dingin dan tentram.
Entah memang udah jalannya atau suatu kebetulan, pada hari yang sama ketika saya kembali ke masjid, siangnya sesuatu yang menurut saya sangat berharga dan telah lama saya jaga tiba-tiba hilang, tapi anehnya saya merasa ada suatu ketenangan dalam hati yang sepertinya diberikan-Nya sehingga saya tidak merasakan suatu rasa kehilangan yang begitu besar. Itulah rahmat yang saya rasakan hari itu, dan dari dulu saya selalu meyakini bahwa rahmat-Nya bisa dalam bentuk berbeda-beda dan selalu ditunjukkan lebih indah dari yang dibayangkan, wallahu'alam.
Moga di sisa puasa ini saya dapat lebih memperbaharui diri dalam hubungan dengan-Nya, dan menjadi kado terbesar dari-Nya di ramadhan kali ini. Bagaimana dengan anda ^^
Monday, September 24, 2007
Nikah Setelah Hamil
Judulnya serem yaaa.. Jangan sampai deh. Zina itu masuk dosa besar, nomor 3 lagi.. top three , mantaaab.. halah^^.
Tapi berikut buat pengetahuan aja, diambil dari tanya jawab dengan Quraish Shihab di Republika. Moga bermanfaat ^^
Perkawinan yang didahului oleh kehamilan dinilai sah oleh banyak ulama, walaupun memang ada ulama yang menyatakan bahwa perkawinan tersebut tidak sah. Sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa hubungan dua jenis kelamin yang tidak didahului oleh pernikahan yang sah, lalu dilaksanakan sesudahnya pernikahan yang sah menjadikan hubungan tersebut awalnya haram dan akhirnya halal.
Dengan kata lain, perkawinan seseorang yang telah berzina dengan wanita kemudian menikahinya dengan sah, seperti keadaan seorang yang mencuri buah dari kebun seseorang, kemudian dia membeli dengan sah kebun tersebut bersama seluruh buahnya. Apa yang dicurinya (sebelum pembelian itu) haram, sedang yang dibelinya setelah pencurian itu adalah halal. Inilah pendapat Imam Syafi'i dan Abu Hanifah.
Sedang Imam Malik menilai bahwa siapa yang berzina dengan seseorang kemudian dia menikahinya, maka hubungan seks keduanya adalah haram, kecuali dia melakukan akad nikah yang baru, setelah selesai iddah dari hubungan seks yang tidak sah itu. Memang kalau ingin lebih tenang, sehingga dipandang sah juga oleh penganut mazhab Maliki, tidak ada salahnya melakukan nikah ulang, dengan memanggil dua orang saksi, wali wanita serta siapa saja yang bertindak sebagai penghulu. Anak yang lahir itu -- jika diakui oleh suami wanita tadi, maka dia dapat menyandang nama sang suami. Demikian, Wa Allah A'lam.
Tapi berikut buat pengetahuan aja, diambil dari tanya jawab dengan Quraish Shihab di Republika. Moga bermanfaat ^^
Perkawinan yang didahului oleh kehamilan dinilai sah oleh banyak ulama, walaupun memang ada ulama yang menyatakan bahwa perkawinan tersebut tidak sah. Sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas, berpendapat bahwa hubungan dua jenis kelamin yang tidak didahului oleh pernikahan yang sah, lalu dilaksanakan sesudahnya pernikahan yang sah menjadikan hubungan tersebut awalnya haram dan akhirnya halal.
Dengan kata lain, perkawinan seseorang yang telah berzina dengan wanita kemudian menikahinya dengan sah, seperti keadaan seorang yang mencuri buah dari kebun seseorang, kemudian dia membeli dengan sah kebun tersebut bersama seluruh buahnya. Apa yang dicurinya (sebelum pembelian itu) haram, sedang yang dibelinya setelah pencurian itu adalah halal. Inilah pendapat Imam Syafi'i dan Abu Hanifah.
Sedang Imam Malik menilai bahwa siapa yang berzina dengan seseorang kemudian dia menikahinya, maka hubungan seks keduanya adalah haram, kecuali dia melakukan akad nikah yang baru, setelah selesai iddah dari hubungan seks yang tidak sah itu. Memang kalau ingin lebih tenang, sehingga dipandang sah juga oleh penganut mazhab Maliki, tidak ada salahnya melakukan nikah ulang, dengan memanggil dua orang saksi, wali wanita serta siapa saja yang bertindak sebagai penghulu. Anak yang lahir itu -- jika diakui oleh suami wanita tadi, maka dia dapat menyandang nama sang suami. Demikian, Wa Allah A'lam.
Monday, September 10, 2007
Andai ga ada ramadhan..
Dah mau puasa yaa, biasanya semangat untuk menggali agamanya pasti pada timbul lagi. Sebagian orang bilang inilah kesempatan untuk kembali fitri, kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan latihan untuk berbuat baik..
Kenapa yaaa harus menunggu ramadhan untuk kembali ke fitri..?
Bukankah kita telah diberi kesempatan 5 kali sehari untuk selalu kembali ke fitrah. Apakah memang karena yang 5 kali itu saja kita masih sering lewat. Apakah tidur kita masih mengalahkan subuh. Karena kerjaan kita sering bablas zuhur. Oo mungkin bisa dijamak dengan Ashar, yang ternyata ketika Ashar kita dalam perjalanan sehingga keburu magrib. Karena udah absen 3 waktu, udah de dibablasin aja semuanya. Dengan ramadhan kita berharap bisa menghapus semua keabsenan tersebut..
Kenapa yaaa harus menunggu ramadhan untuk memperbanyak ibadah..?
Bukankah ada sebelas bulan lainnya yang bisa di optimalkan untuk beribadah. Ooo mungkin karena kita semua bermental pedagang sehingga amalan pun kita jadikan hitungan dagang. Ramadhan dengan iming-iming pahala berkali-kali lipat, penghapusan hutang (dosa), dan janji kenikmatan surga sehingga kita berbondong-bondong memenuhi masjid untuk beribadah di bulan puasa, kita memenuhi malam-malam dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang di 11 bulan sebelumnya atau mungkin di 11 bulan kedepan tidak pernah tersentuh.
Kanapa lagi harus menunggu ramadhan untuk menjaga ucapan dan berbuat baik..?
Bukankah kita akan lebih mudah berbuat baik dan menjaga diri ketika perut kenyang. Kenapa harus bersusah payah harus lapar dulu karena puasa dipaksa menjaga amarah, memelihara pandangan dan memperbanyak sedekah bukankah itu menyalahi metabolisme yang ada. Ooo mungkin balik lagi ke masalah mental pedangang, karena kitanya tidak mau rugi amalan kita kepotong, puasa kita tidak diterima dan do'a-do'a kita tidak terkabulkan
Kenapa yaaa
Kenapa kita ga bersyukur udah dikasih kesempatan untuk selalu mengingat-Nya dan kembali fitri minimal 5 kali sehari. Kenapa kita masih sering menjadikan shalat itu seperti suatu tugas yang kadang seperti mengganggu tugas duniawi kita. Atau karena mental budak kita, kita masih takut meninggalkan shalat karena takut hukuman dari-Nya. Kenapa harus menunggu ramadhan untuk kembali ingat shalat dan kembali ingat fitrah
Kenapa yaaa
Kenapa kita masih mencoba berdagang dengan-Nya. Kenapa kita tidak mencoba sedikit 'naik kelas' dari yang tadinya beribadah karena takut dosa dan mengharapkan surga, menjadi ikhlas karena-Nya, bukankah kita sering menyebut Lillahi ta'ala. Kenapa ramadhan dijadikan pekan raya antara kita dengan-Nya.
Kenapa yaa
Kenapa kita harus bersusah-susah bermuka baik dibulan ramadhan. Kenapa tidak 11 bulan kita jadikan latihan untuk menyambut yang 1 bulan yang namanya ramadhan, tentu yang 1 bulan akan lebih mudah dilewati daripada dibalik, berlatih 1 bulan untuk mendapatkan yang 11 bulan. Jadikanlah ramadhan sebagai ujian sementara bulan lainnya sebagai latihan. Bukannya dimana-mana latihan itu lebih lama daripada ujian. Jangan dibalik, jika ramadhan dijadikan latihan pasti tidak akan efektif untuk menjalankan ujian yang panjang, b-tuuull tidak..!? (jadi ingat Aa Gym.., miss u Aa hehehe)
Terlepas dari semua itu, kita pantas benar-benar bersyukur karena kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk ketemu yang namanya ramadhan
Kita juga pantas bersyukur karena ada satu bulan yang seistimewa ramadhan. Bayangkan jika satu tahun tanpa ada ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa, maapin yaaa kalau ada yang salah tulis di blog ini, banyak tulisan sampah yang mencuri waktunya.. semoga ramadhan kita kali ini lebih baik dari ramadhan-ramadhan sebelumnya.
Ooo yaaa ada tulisan bagus tentang taubat di;
http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&task=view&id=325
Lumayan buat ngisi waktu dengan hal-hal bermanfaat salah satunya pengetahuan di saat lapar di bulan puasa nanti. Bagus banget buat ngerti terminologi 'kembali' - 'Id, Rujuk, Taubat dan inabah. Ooo yaaa pesan sponsor, jangan sekterian yaaa.. ini tulisan nya Jalalludin Rahmat, jangan alergi dengan embel-embel beliau syiah dan lainnya, ambil yang baik bukannya itu prinsip dasar agama. Seperti kata Ebiet G Ade - Jangan lihat siapa bicara tapi dengar apa katanya.. betuul tidak.. (jadi ingat Aa lagi hik..hik.hiik..)
Enjoy.. halah, bacaan panjang gitu gimana bisa enjoy hehehe... ^^
Dah mau puasa yaa, biasanya semangat untuk menggali agamanya pasti pada timbul lagi. Sebagian orang bilang inilah kesempatan untuk kembali fitri, kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan latihan untuk berbuat baik..
Kenapa yaaa harus menunggu ramadhan untuk kembali ke fitri..?
Bukankah kita telah diberi kesempatan 5 kali sehari untuk selalu kembali ke fitrah. Apakah memang karena yang 5 kali itu saja kita masih sering lewat. Apakah tidur kita masih mengalahkan subuh. Karena kerjaan kita sering bablas zuhur. Oo mungkin bisa dijamak dengan Ashar, yang ternyata ketika Ashar kita dalam perjalanan sehingga keburu magrib. Karena udah absen 3 waktu, udah de dibablasin aja semuanya. Dengan ramadhan kita berharap bisa menghapus semua keabsenan tersebut..
Kenapa yaaa harus menunggu ramadhan untuk memperbanyak ibadah..?
Bukankah ada sebelas bulan lainnya yang bisa di optimalkan untuk beribadah. Ooo mungkin karena kita semua bermental pedagang sehingga amalan pun kita jadikan hitungan dagang. Ramadhan dengan iming-iming pahala berkali-kali lipat, penghapusan hutang (dosa), dan janji kenikmatan surga sehingga kita berbondong-bondong memenuhi masjid untuk beribadah di bulan puasa, kita memenuhi malam-malam dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang di 11 bulan sebelumnya atau mungkin di 11 bulan kedepan tidak pernah tersentuh.
Kanapa lagi harus menunggu ramadhan untuk menjaga ucapan dan berbuat baik..?
Bukankah kita akan lebih mudah berbuat baik dan menjaga diri ketika perut kenyang. Kenapa harus bersusah payah harus lapar dulu karena puasa dipaksa menjaga amarah, memelihara pandangan dan memperbanyak sedekah bukankah itu menyalahi metabolisme yang ada. Ooo mungkin balik lagi ke masalah mental pedangang, karena kitanya tidak mau rugi amalan kita kepotong, puasa kita tidak diterima dan do'a-do'a kita tidak terkabulkan
Kenapa yaaa
Kenapa kita ga bersyukur udah dikasih kesempatan untuk selalu mengingat-Nya dan kembali fitri minimal 5 kali sehari. Kenapa kita masih sering menjadikan shalat itu seperti suatu tugas yang kadang seperti mengganggu tugas duniawi kita. Atau karena mental budak kita, kita masih takut meninggalkan shalat karena takut hukuman dari-Nya. Kenapa harus menunggu ramadhan untuk kembali ingat shalat dan kembali ingat fitrah
Kenapa yaaa
Kenapa kita masih mencoba berdagang dengan-Nya. Kenapa kita tidak mencoba sedikit 'naik kelas' dari yang tadinya beribadah karena takut dosa dan mengharapkan surga, menjadi ikhlas karena-Nya, bukankah kita sering menyebut Lillahi ta'ala. Kenapa ramadhan dijadikan pekan raya antara kita dengan-Nya.
Kenapa yaa
Kenapa kita harus bersusah-susah bermuka baik dibulan ramadhan. Kenapa tidak 11 bulan kita jadikan latihan untuk menyambut yang 1 bulan yang namanya ramadhan, tentu yang 1 bulan akan lebih mudah dilewati daripada dibalik, berlatih 1 bulan untuk mendapatkan yang 11 bulan. Jadikanlah ramadhan sebagai ujian sementara bulan lainnya sebagai latihan. Bukannya dimana-mana latihan itu lebih lama daripada ujian. Jangan dibalik, jika ramadhan dijadikan latihan pasti tidak akan efektif untuk menjalankan ujian yang panjang, b-tuuull tidak..!? (jadi ingat Aa Gym.., miss u Aa hehehe)
Terlepas dari semua itu, kita pantas benar-benar bersyukur karena kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk ketemu yang namanya ramadhan
Kita juga pantas bersyukur karena ada satu bulan yang seistimewa ramadhan. Bayangkan jika satu tahun tanpa ada ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa, maapin yaaa kalau ada yang salah tulis di blog ini, banyak tulisan sampah yang mencuri waktunya.. semoga ramadhan kita kali ini lebih baik dari ramadhan-ramadhan sebelumnya.
Ooo yaaa ada tulisan bagus tentang taubat di;
http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&task=view&id=325
Lumayan buat ngisi waktu dengan hal-hal bermanfaat salah satunya pengetahuan di saat lapar di bulan puasa nanti. Bagus banget buat ngerti terminologi 'kembali' - 'Id, Rujuk, Taubat dan inabah. Ooo yaaa pesan sponsor, jangan sekterian yaaa.. ini tulisan nya Jalalludin Rahmat, jangan alergi dengan embel-embel beliau syiah dan lainnya, ambil yang baik bukannya itu prinsip dasar agama. Seperti kata Ebiet G Ade - Jangan lihat siapa bicara tapi dengar apa katanya.. betuul tidak.. (jadi ingat Aa lagi hik..hik.hiik..)
Enjoy.. halah, bacaan panjang gitu gimana bisa enjoy hehehe... ^^
Tuesday, September 04, 2007
Be Good
Mungkin pada pernah dengar kisah tentang perlakuan seorang Yahudi terhadap Rasulullah saw di Manidah dulu. Kalau belum berikut kisahnya;
Suatu hari Rasulullah saw jalan menuju masjid didepan rumah seorang Yahudi. Mengatahui itu Rasulullah saw, orang yahudi tersebut mengejek dan meludahi Beliau. Diperlakukan seperti itu Rasulullah bukannya membalas justru didiamkan saja. Sejak saat itu setiap beliau akan berangkat ke masjid beliau selalu diperlakukan sama oleh yahudi tersebut dan Rasulullah saw tidak pernah menggubris apalagi membalas. Suatu hari ketika Beliau lewat beliau tidak menjumpai dan tidak mendapat ejekan dari si Yahudi, begitu juga hari-hari berikutnya. Sampai suatu hari Rasulullah saw bertanya kemana si yahudi tersebut, dan dari orang-orang Beliau mengetahui ternyata si Yahudi sedang sakit. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah saw segera mendatangi rumah orang yahudi tersebut, dan menanyakan keadaannya. Rasulullah saw juga kemudian menyuapi orang yahudi yang sedang sakit tersebut. Melihat balasan dan kelembutan hati Rasullah saw si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya didepan Rasulullah saw.
Saya baca kisah ini beberapa hari yang lalu dari blog seseorang di internet. Hari ini saya teringat untuk menuliskan disini sebagai masukan dari perspektif yang lain bagi teman yang kebetulan hari ini mendapat musibah dapat comment yang sangat tidak mengenakkan dari seseorang di blognya sendiri. Dear friend, di salah satu blog saya pernah baca comment seperti ini "jangan merasa terhina dengan hinaan orang lain, karena sesungguhnya mereka telah menghinakan diri mereka sendiri dengan sikapnya".
Selalu berucap dan berbuat baik ^^
Mungkin pada pernah dengar kisah tentang perlakuan seorang Yahudi terhadap Rasulullah saw di Manidah dulu. Kalau belum berikut kisahnya;
Suatu hari Rasulullah saw jalan menuju masjid didepan rumah seorang Yahudi. Mengatahui itu Rasulullah saw, orang yahudi tersebut mengejek dan meludahi Beliau. Diperlakukan seperti itu Rasulullah bukannya membalas justru didiamkan saja. Sejak saat itu setiap beliau akan berangkat ke masjid beliau selalu diperlakukan sama oleh yahudi tersebut dan Rasulullah saw tidak pernah menggubris apalagi membalas. Suatu hari ketika Beliau lewat beliau tidak menjumpai dan tidak mendapat ejekan dari si Yahudi, begitu juga hari-hari berikutnya. Sampai suatu hari Rasulullah saw bertanya kemana si yahudi tersebut, dan dari orang-orang Beliau mengetahui ternyata si Yahudi sedang sakit. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah saw segera mendatangi rumah orang yahudi tersebut, dan menanyakan keadaannya. Rasulullah saw juga kemudian menyuapi orang yahudi yang sedang sakit tersebut. Melihat balasan dan kelembutan hati Rasullah saw si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya didepan Rasulullah saw.
Saya baca kisah ini beberapa hari yang lalu dari blog seseorang di internet. Hari ini saya teringat untuk menuliskan disini sebagai masukan dari perspektif yang lain bagi teman yang kebetulan hari ini mendapat musibah dapat comment yang sangat tidak mengenakkan dari seseorang di blognya sendiri. Dear friend, di salah satu blog saya pernah baca comment seperti ini "jangan merasa terhina dengan hinaan orang lain, karena sesungguhnya mereka telah menghinakan diri mereka sendiri dengan sikapnya".
Selalu berucap dan berbuat baik ^^
Saturday, August 25, 2007
Makna Sebuah Titipan
(WS Rendra)
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra)
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Saturday, August 18, 2007
Konsisten
Masih ingat blog saya sebelumnya yang berisi kutipan beberapa cerita dari buku Canda ala Sufi Nashruddin Hoja. Kalau gak ingat, kelewatan.. :). Ok, salah satu tulisan itu bercerita, suatu saat Nasruddin ditanya berapa umurnya, dan Nashruddin menjawab 40 tahun. Orang yang nanya protes kok 40 tahun, bukannya lebih, karena beberapa tahun sebelumnya ketika ditanya, Nashruddin juga menjawab 40 tahun. mendengar prote tersebut, Nasruddin dengan enteng menjawab, 'karena saya konsisten'.
Tulisan yang terkesan enteng dan cuma buat lucu-lucuan ini, menurut saya punya makna yang dalam, maklum saja yang nulisnya sufi gak mungkin nulis sesuatu yang tidak punya makna. Saya sendiri menangkap makna dari tulisan tersebut adalah Nashruddin ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya umur tidak dapat dijadikan patokan akan kesalihan, amalan dan kaitannya dengan kematian. Sepertinya di masyarakat telah lumrah menganggap bahwa bertambahnya umur semakin mendekatkan kita dengan kematian, dan semakin pendek waktu bagi kita untuk melengkapi ibadah. Disini sang sufi ingin membalikkan, bahwa sesungguhnya umur tidak ada kaitan dengan semua itu. Bukankah yang namanya kematian bisa datang kapanpun, gak harus menunggu tua. Untuk itu kesiapan untuk memperbanyak ibadah juga tidak harus menunggu tua, dan tidak harus menghitung-hitung sisa usia, kapanpun kita akan di panggil. Saya yang lagi nulis blog ini, bisa aja gagal menyelesaikan blog ini jika tiba-tiba 'dipanggil'. Lagi, kalau pernah baca blog saya sebelumnya dengan judul 'Pulang' sepertinya pas banget dengan tulisan ini tentang kesiapan kita dipanggil kapanpun.
Naah, kenapa saya jadi keingat tulisan Nashruddin Hoja diatas, hal ini berkaitan dengan masalah pencantuman umur di friendster ketika usia saya kata orang-orang bertambah disaat tujuhbelasan kemaren (padahal gak perlu 17-an, tiap saat umur saya bertambah kok..! :P). Bukan rahasia lagi, nyebutin umur apalagi yang udah bangkotan kayak saya ini di friendster adalah hal yang sensi hehehe, tadinya saya mau nulis 27. Kenapa angka 27..? perhitungan umur seperti ini sebenarnya telah berjalan sejak saya berusia diatas 30 (hil..hiik.. emang udah bangkotan yaaa haaaaaa...mbebes mili..3x :)), angka 30 adalah puncak dari usia saya, setelah itu usia saya akan berjalan surut, karena saya waktu itu ingin menjadikan tolak ukur, berapa sisa usia yang masih saya punya didunia ini. Bukankah siklus hidup itu memang ada puncaknya, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua. Masa tua sebenarnya masa seperti kita balik ke kanak-kanakan, dan semakin mendekati kematian (normal), kita akan kembali seperti bayi, ketergantungan kepada orang lain, tidak bisa jalan, dan tidak jarang pikun dan bukankah itu sudah seperti kembali menjadi bayi. Makanya waktu itu saya berpikir, 30 adalah puncak usia, dan setelah itu akan kembali surut, dan 'mungkin' back to zero at 60, wallahu'alam. Tapi setelah merenungkan makna tulisan Nashruddin Hoja diatas, saya tidak lagi mempermasalahkan umur, yang penting apa yang bisa kita lakukan 'saat ini' untuk bekal kelak. Umur it's doesn't matter (halah sok inggris, emang tau artinya kata Tukul ^_^). Sekalian di blog ini saya tetapkan untuk saat ini dan seterusnya umur saya 27 tahun, karena saya konsisten. halah ^_^
Masih ingat blog saya sebelumnya yang berisi kutipan beberapa cerita dari buku Canda ala Sufi Nashruddin Hoja. Kalau gak ingat, kelewatan.. :). Ok, salah satu tulisan itu bercerita, suatu saat Nasruddin ditanya berapa umurnya, dan Nashruddin menjawab 40 tahun. Orang yang nanya protes kok 40 tahun, bukannya lebih, karena beberapa tahun sebelumnya ketika ditanya, Nashruddin juga menjawab 40 tahun. mendengar prote tersebut, Nasruddin dengan enteng menjawab, 'karena saya konsisten'.
Tulisan yang terkesan enteng dan cuma buat lucu-lucuan ini, menurut saya punya makna yang dalam, maklum saja yang nulisnya sufi gak mungkin nulis sesuatu yang tidak punya makna. Saya sendiri menangkap makna dari tulisan tersebut adalah Nashruddin ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya umur tidak dapat dijadikan patokan akan kesalihan, amalan dan kaitannya dengan kematian. Sepertinya di masyarakat telah lumrah menganggap bahwa bertambahnya umur semakin mendekatkan kita dengan kematian, dan semakin pendek waktu bagi kita untuk melengkapi ibadah. Disini sang sufi ingin membalikkan, bahwa sesungguhnya umur tidak ada kaitan dengan semua itu. Bukankah yang namanya kematian bisa datang kapanpun, gak harus menunggu tua. Untuk itu kesiapan untuk memperbanyak ibadah juga tidak harus menunggu tua, dan tidak harus menghitung-hitung sisa usia, kapanpun kita akan di panggil. Saya yang lagi nulis blog ini, bisa aja gagal menyelesaikan blog ini jika tiba-tiba 'dipanggil'. Lagi, kalau pernah baca blog saya sebelumnya dengan judul 'Pulang' sepertinya pas banget dengan tulisan ini tentang kesiapan kita dipanggil kapanpun.
Naah, kenapa saya jadi keingat tulisan Nashruddin Hoja diatas, hal ini berkaitan dengan masalah pencantuman umur di friendster ketika usia saya kata orang-orang bertambah disaat tujuhbelasan kemaren (padahal gak perlu 17-an, tiap saat umur saya bertambah kok..! :P). Bukan rahasia lagi, nyebutin umur apalagi yang udah bangkotan kayak saya ini di friendster adalah hal yang sensi hehehe, tadinya saya mau nulis 27. Kenapa angka 27..? perhitungan umur seperti ini sebenarnya telah berjalan sejak saya berusia diatas 30 (hil..hiik.. emang udah bangkotan yaaa haaaaaa...mbebes mili..3x :)), angka 30 adalah puncak dari usia saya, setelah itu usia saya akan berjalan surut, karena saya waktu itu ingin menjadikan tolak ukur, berapa sisa usia yang masih saya punya didunia ini. Bukankah siklus hidup itu memang ada puncaknya, mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, tua. Masa tua sebenarnya masa seperti kita balik ke kanak-kanakan, dan semakin mendekati kematian (normal), kita akan kembali seperti bayi, ketergantungan kepada orang lain, tidak bisa jalan, dan tidak jarang pikun dan bukankah itu sudah seperti kembali menjadi bayi. Makanya waktu itu saya berpikir, 30 adalah puncak usia, dan setelah itu akan kembali surut, dan 'mungkin' back to zero at 60, wallahu'alam. Tapi setelah merenungkan makna tulisan Nashruddin Hoja diatas, saya tidak lagi mempermasalahkan umur, yang penting apa yang bisa kita lakukan 'saat ini' untuk bekal kelak. Umur it's doesn't matter (halah sok inggris, emang tau artinya kata Tukul ^_^). Sekalian di blog ini saya tetapkan untuk saat ini dan seterusnya umur saya 27 tahun, karena saya konsisten. halah ^_^
Tuesday, August 07, 2007
Mbrebes mili
Lagi.. barusan saya kebangun oleh mimpi aneh dimana dalam mimpi tersebut saya sedang berusaha menghindari seekor laba-laba besar mencoba melompat ke arah wajah saya, secara reflek saya menghindar, disaat yang sama saya kebangun dalam posisi lagi terkaget menggoyangkan kepala seolah-olah sedang menghidar dari laba-laba. Ini bukan mimpi yang pertama, tapi entah yang keberapa, karena itu saya merasa ada yang aneh dirumah ini, saya selalu mengalami mimpi buruk yaa ketemu macem-macem kayak tadi laba-laba, ular, dan sempat juga ketemu nenek-nenek berbaju putih yang biasanya membuat saya terperanjak bangun, dan itu berlangsung dalam 10-30 menit setelah gw tertidur. Jangan-jangan ini rumah ada...!! hiiiiii.
Karena udah gak bisa tidur, saya coba buat tulisan ini, lumayan nunggu mata ngantuk kembali.
Mbrebes mili, salah satu kosa kata jawa yang saya dapat baru-baru ini. Berawal dari seorang teman kantor, my little girl dikantor (karena paling muda diantara kita-kita) yang digodain mulu sama teman, lama-lama matanya berkaca-kaca, akhirnya, bocor deh..
Mbrebes, saya termasuk orang yang mungkin sering banget mbrebes. Dari dulu saya adalah orang yang mudah sekali tersentuh dan biasanya mata saya berkaca-kaca, mbrebes, alhamdulillah. Kok bersyukur, bukannya sebagian orang beranggapan itu tipe cowok cengeng. Bagi saya gak, itu bukan cengeng, tapi itu wujud mengasah rasa. Hari ini berapa kali saya berkaca-kaca, pertama ketika bertemu teman saya yang bokapnya baru mengalami pendarahan di otaknya karena stroke. Yang bikin saya mbrebes bukan karena kondisi bokapnya tapi karena melihat wajah teman saya yang tadinya seorang yang sangat confidence, tenang, tapi tadi seperti hopeless. Betapa kejadian ini begitu memukul mentalnya, bokap yang benar-benar dicintai, walaupun dokter memberi harapan akan kesembuhannya, tetap saja ada rasa khawatir yang mendalam akan kemungkinan kehilangan orang yang dicintai dan mungkin jadi panutan dalam hidupnya. Moga bokap loe bisa sembuh my friend.
Mbrebes kedua ketika teman saya yang lain bercerita, lagi-lagi ada kaitannya dengan teman yang tadi saya ceritain, yaitu bagaimana orangtuanya ketika menjelang ajal menjemput. Teman tadi bercerita bahwa dia baru sadar setelah bokapnya meninggal, ternyata hari-hari menjelang 'kepergiaannya' beliau seperti mencoba melakukan napak tilas kehidupannya, mulai keinginan ke pulang ke kampung halamannya ke Jogja melalui jalan darat, berkunjung ke tempat-tempat yang pernah mengisi sejarah hidupnya, sampai kemudian sakit di jogja dan ingin pulang, yang ternyata makna pulang tersebut bukan kembali ke jakarta tapi pulang ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Yang bikin semakin berkaca-kaca adalah bagaimana orangnya menjelang hari-hari kematiannya berucap bahwa dia ingin pulang ke rumah yang di lihat banyak rumput hijau, dan ternyata ketika proses pemakamannya teman tersebut baru sadar bahwa lokasi kuburan bokapnya itu penuh dengan rumput hijau, na'uzubillah min zaliq. Suatu proses kematian yang sepertinya sangat indah, dimana sepertinya tidak ada border, pembatas antara kehidupan dunia dengan dunia berikutnya, semuanya terpampang dengan jelas dan kehidupan berikutnya tersebut diperlihatkan dengan gamblang oleh malaikat berupa suatu tempat kembali yang indah. Disana saya benar-benar berkaca-kaca, berdo'a dalam hati moga-moga kelak juga mengalami hal yang sama, amin.
Itulah beberapa contoh, kenapa saya sangat mudah mbrebes walau gak sampai mili. Tidak ada salahnya berkaca-kaca, tidak ada salahnya menangis demi suatu yang membawa kepada kebaikan. Bukannya Rasulullah saw dan para sahabat adalah mereka yang berhati teguh tapi tetap mudah menitikkan air mata jika teringat amalan-amalan dan hari akhir atau melihat suatu yang menyentuh perasaan. wallahu'alam.
Friday, July 27, 2007
Bad Day
What I've got you've got to give it to your mamma
What I've got you've got to give it to your pappa
What I've got you've got to give it to your daughter
You do a little dance and then you drink a little water
Apa-an siy maksud lirik diatas, gw gak ngerti. Dasar RHCP, bikin lirik suka asal yang penting beatnya bagus :), tapi lagu ini justru bikin gw sedikit tersenyum cause hari ini my heart feel so bad (mo nulis dalam indonesia kok gak pas banget). Seharian merasa so bad, gak ada angin gak ada hujan, feel so bad aja. Sore ini gw bongkar-bongkar lagu, mulai dari dengarin harbour nya Moby, nyimak lirik Don't Know Why Norah Jones atau lirik berontak Killing in the Name nya Rage Against The Mechine, Promise N-Sync..alah alah...denger sebentar langsung ganti, lirik rendah diri Creep nya Radiohead, One heart one love Phil Perry (sayang gak ada lirik), naah sekarang lagi nyala di ibook suck my kiss Red Hot Chili Peppers yang liriknya benar-benar gak jelas, penuh dengan istilah jorok, hih..!, but beat nya enak buat ilangin suntuk. setelah puas headbanger di Linkin park konser tahun 2004 yang lalu, saya sangat terobsesi buat nonton konser nya Red Hot Chili Peppers, sepertinya enak banget,moga-moga ada yang mau sponsorin konser di jakarta.. Asal jangan open air dan siang hari lagi kayak Linkin Park, gak enak banget. Seperti halnya fotografi yang mengharamkan pemotretan di siang bolong kecuali buat IR photography, frekuensi matahari sepertinya juga tidak bagus buat sound di konser musik :)
Kembali ke Laptop, kita sepertinya harus benar-benar bersyukur pada Yang di Atas diberi indra yang sangat luar biasa. Gak pernah kebayang suara yang di tangkap indra telinga, diterjemahkan otak dan dapat mempengaruhi suasana hati. itu benar-benar anugerah. Seperti halnya mata, bagi yang suka fotografi, mata dan otak adalah magic lens dan CCD yang gak ada tandingannya. Indra penciuman dan perasa adalah dua indra dimana kita tidak akan dapat merasakan suatu makanan yang enak kalau tidak karena kedua indra ini.
Memelihara kesehatannya dan menggunakan untuk hal yang baik adalah dua hal yang dapat kita gunakan sebagai wujud syukur atas apa yang telah diberikanNya. Lagi-lagi, hati yang bagi sufi dianggap sebagai 'arasy nya Sang Pencipta, akan memberi makna terhadap apa yang di tangkap oleh indra-indra tersebut. Bagaimana hati Umar bin Khattab tersentuh dan tergerak untuk masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibaca adiknya yang telah duluan Islam, bagaimana para sahabat banyak menangis ketika melihat penderitaan orang lain. Demikianlah, sesungguhnya apa yang menempel pada tubuh kita termasuk panca indra hanyalah merupakan tools yang di pinjamkan oleh Yang Di Atas, tergantung kepada kita apakah dapat menjaganya dengan tetap sehat, apakah akan digunakan untuk kebaikan, untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tidak perlu berbangga dan menyombongkan diri akan tubuh ini karena hanya pinjaman. Kita berdo'a semoga tidak sampai menyalahgunakannya apalagi digunakan untuk menentangNya, karena yang namanya pinjaman kapanpun dapat di tarik kembali oleh-Nya sebagai pemilik dan yang pasti di hari akhir kelak akan diminta pertanggung jawabannya.
takkan ada cinta yang dapat merebut hatiku
kecuali dia.. kecuali dia..kecuali diaaaaa....
lirik terakhir dari lagu Kecuali Dia - Seurius band yang terdengar enak banget ketika mengakhiri tulisan ini. Enjoy ^_^
What I've got you've got to give it to your mamma
What I've got you've got to give it to your pappa
What I've got you've got to give it to your daughter
You do a little dance and then you drink a little water
Apa-an siy maksud lirik diatas, gw gak ngerti. Dasar RHCP, bikin lirik suka asal yang penting beatnya bagus :), tapi lagu ini justru bikin gw sedikit tersenyum cause hari ini my heart feel so bad (mo nulis dalam indonesia kok gak pas banget). Seharian merasa so bad, gak ada angin gak ada hujan, feel so bad aja. Sore ini gw bongkar-bongkar lagu, mulai dari dengarin harbour nya Moby, nyimak lirik Don't Know Why Norah Jones atau lirik berontak Killing in the Name nya Rage Against The Mechine, Promise N-Sync..alah alah...denger sebentar langsung ganti, lirik rendah diri Creep nya Radiohead, One heart one love Phil Perry (sayang gak ada lirik), naah sekarang lagi nyala di ibook suck my kiss Red Hot Chili Peppers yang liriknya benar-benar gak jelas, penuh dengan istilah jorok, hih..!, but beat nya enak buat ilangin suntuk. setelah puas headbanger di Linkin park konser tahun 2004 yang lalu, saya sangat terobsesi buat nonton konser nya Red Hot Chili Peppers, sepertinya enak banget,moga-moga ada yang mau sponsorin konser di jakarta.. Asal jangan open air dan siang hari lagi kayak Linkin Park, gak enak banget. Seperti halnya fotografi yang mengharamkan pemotretan di siang bolong kecuali buat IR photography, frekuensi matahari sepertinya juga tidak bagus buat sound di konser musik :)
Kembali ke Laptop, kita sepertinya harus benar-benar bersyukur pada Yang di Atas diberi indra yang sangat luar biasa. Gak pernah kebayang suara yang di tangkap indra telinga, diterjemahkan otak dan dapat mempengaruhi suasana hati. itu benar-benar anugerah. Seperti halnya mata, bagi yang suka fotografi, mata dan otak adalah magic lens dan CCD yang gak ada tandingannya. Indra penciuman dan perasa adalah dua indra dimana kita tidak akan dapat merasakan suatu makanan yang enak kalau tidak karena kedua indra ini.
Memelihara kesehatannya dan menggunakan untuk hal yang baik adalah dua hal yang dapat kita gunakan sebagai wujud syukur atas apa yang telah diberikanNya. Lagi-lagi, hati yang bagi sufi dianggap sebagai 'arasy nya Sang Pencipta, akan memberi makna terhadap apa yang di tangkap oleh indra-indra tersebut. Bagaimana hati Umar bin Khattab tersentuh dan tergerak untuk masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibaca adiknya yang telah duluan Islam, bagaimana para sahabat banyak menangis ketika melihat penderitaan orang lain. Demikianlah, sesungguhnya apa yang menempel pada tubuh kita termasuk panca indra hanyalah merupakan tools yang di pinjamkan oleh Yang Di Atas, tergantung kepada kita apakah dapat menjaganya dengan tetap sehat, apakah akan digunakan untuk kebaikan, untuk mendekatkan diri kepadaNya. Tidak perlu berbangga dan menyombongkan diri akan tubuh ini karena hanya pinjaman. Kita berdo'a semoga tidak sampai menyalahgunakannya apalagi digunakan untuk menentangNya, karena yang namanya pinjaman kapanpun dapat di tarik kembali oleh-Nya sebagai pemilik dan yang pasti di hari akhir kelak akan diminta pertanggung jawabannya.
takkan ada cinta yang dapat merebut hatiku
kecuali dia.. kecuali dia..kecuali diaaaaa....
lirik terakhir dari lagu Kecuali Dia - Seurius band yang terdengar enak banget ketika mengakhiri tulisan ini. Enjoy ^_^
Thursday, May 31, 2007
Sujud
Jalaluddin Rumi bercerita, alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.
Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.
Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."
"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."
"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."
"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."
Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."
Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.
Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."
Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.
Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun.
(Dikutip dari tulisan Jalaluddin Rakhmat: Lailatul Qadar, malam pengampunan)
Jalaluddin Rumi bercerita, alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.
Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.
Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."
"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."
"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."
"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."
Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."
Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.
Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."
Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.
Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun.
(Dikutip dari tulisan Jalaluddin Rakhmat: Lailatul Qadar, malam pengampunan)
Sunday, May 06, 2007
Menghitung Pahala
Pagi ini saya mulai menghitung pahala kembali, pahala apa saja yang saya lakukan mulai dari brangkat ke kantor sampai sekarang posting blog ini. Pahala pagi ini mulai dari tersenyum pada tetangga ketika manasin motor, baca do'a ketika mau brangkat, mendahulukan mobil lain ketika berpapasan di pertigaan, atau menyalip bapak-bapak yang lagi ngantar 3 anaknya dengan sangat hati-hati.
Menghitung pahala bukan untuk tujuan hitung-hitungan dengan Tuhan, atau bukan juga untuk tujuan ria, berbangga diri, tapi lebih secara pisikologis memacu untuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Mengingat perbuatan baik, biasanya akan memberikan kepuasan batin tersendiri, sehingga kita akan terpacu untuk meraih kepuasan tersebut lebih banyak lagi dengan selalu berbuat baik.
Suatu pahala tidak harus berupa tindakan-tindakan besar berupa zakat atau ibadah seperti shalat dan puasa. Contoh diatas cukup menggambarkan, betapa hal kecilpun jika dilakukan dengan ikhlas, adalah suatu pahala. Ikhlas pun bukan suatu ucapan 'saya ikhlas', tapi berasal dari hati, semakin bersih hati semakin mudah untuk berbuat ikhlas.
So, udah berbuat baik apa aja pagi ini?
Pagi ini saya mulai menghitung pahala kembali, pahala apa saja yang saya lakukan mulai dari brangkat ke kantor sampai sekarang posting blog ini. Pahala pagi ini mulai dari tersenyum pada tetangga ketika manasin motor, baca do'a ketika mau brangkat, mendahulukan mobil lain ketika berpapasan di pertigaan, atau menyalip bapak-bapak yang lagi ngantar 3 anaknya dengan sangat hati-hati.
Menghitung pahala bukan untuk tujuan hitung-hitungan dengan Tuhan, atau bukan juga untuk tujuan ria, berbangga diri, tapi lebih secara pisikologis memacu untuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Mengingat perbuatan baik, biasanya akan memberikan kepuasan batin tersendiri, sehingga kita akan terpacu untuk meraih kepuasan tersebut lebih banyak lagi dengan selalu berbuat baik.
Suatu pahala tidak harus berupa tindakan-tindakan besar berupa zakat atau ibadah seperti shalat dan puasa. Contoh diatas cukup menggambarkan, betapa hal kecilpun jika dilakukan dengan ikhlas, adalah suatu pahala. Ikhlas pun bukan suatu ucapan 'saya ikhlas', tapi berasal dari hati, semakin bersih hati semakin mudah untuk berbuat ikhlas.
So, udah berbuat baik apa aja pagi ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)