Buku-buku yang wajib dibaca
(Ini buku-buku favorit gue)
Harry Potter – Mencoba kembali ke imajinasi masa kanak-kanak
Mimpi-mimpi Einstein – Berimajinasi dengan hal yang lebih rumit, lebih serius tentang bagaimana orang fisika bercerita tentang waktu
Canda Sufi - Pengen bacaan ringan, lucu abis, tapi tersimpan banyak makna. Lagi-lagi daya imajinasi si pengarang (sebenarnya kemampuan ngeles si tokoh) benar-benar edan, padahal seorang Sufi.
Tetralogi Pramudya Ananta Toer - Satu karya sastra yang sangat indah, dan tertuang dalam 4 Buku. Plot cerita yang benar-benar kaya akan ide.
Musashi – Suatu karya tentang seorang laki-laki dan untuk laki-laki. Tapi juga cocok buat cewek, khususnya mengenal budaya jepang, dan ketegaran seorang wanita jepang yang bernama Otsu :D
Taiko - Buku tentang strategi, mungkin terjemahan yang lebih luas tentang filsafat Sun-Tzu.
Dan Brown Series - Novel yang kaya akan pengetahuan, bagaimana seharusnya suatu novel di tulis dimana diperlukan riset yang mendalam tentang banyak hal yang terkait dengan cerita.
Showing posts with label baca-baca. Show all posts
Showing posts with label baca-baca. Show all posts
Tuesday, May 22, 2007
15 Juni 1905
(Salah satu tulisan dalam buku Einstein's Dreams)
Di dunia ini, waktu adalah dimensi yang terlihat. Seperti halnya orang bisa menatap rumah-rumah, pohon-pohon, dan puncak gunung di kejauhan sebagai suatu pertanda adanya dimensi ruang. Hal serupa terjadi ketika orang menatap ke arah yang berlawanan dan tampaklah kelahiran-kelahiran, pernikahan-pernikahan, kematian-kematian sebagai pertanda adanya dimensi waktu, merentang suram di masa depan yang jauh. Dan, seperti halnya orang bisa berpindah tempat, orang juga bisa memilih gerak pada poros waktu. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang meilintas.
Di satu politeknik di Zurich, seorang lelaki muda duduk bersama pembimbingnya di ruang perpustakaan yang kecil, membahas disertasi doktoratnya. Saat ini bulan Desember, rak marmer putih di atas tungku perapian, dan bunga api memercik. Lelaki muda dan gurunya itu duduk di kursi oak yang nyaman, dan diatas meja bundar penuh kertas-kertas hitungan. Peneltian itu memang sulit. Tiap bulan, dalam 18 bulan terakhir, lelaki muda itu selalu menjumpai profesornya di ruangan itu, meminta bimbingan dan dorongan, meneruskan pekerjaan dan datang lagi pada bulan berikutnya dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Sang profesor selalu menyediakan jawaban-jawaban. Dan hari ini, lagi, sang profesor memberi penjelasan. Ketika pembimbingnya berbicara, lelaki muda itu memandang keluar jendela, mengamati salju yang menempel di pohon cemara di sebelah gedung, bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa meraih gelar kelak. Duduk di kursi, lelalki muda itu kemudian melangkah ke masa depan dengan ragu-ragu, dan dalam beberapa menit telah sampai ke masa depan, gemetar karena kedinginan dan ketidakpastian. Ia menarik diri kembali ke belakang. Lebih baik ia tetap bertahan di saat ini, di samping hangatnya api, di samping hangatnya bimbingan sang profesor. Jauh lebih baik menghentikan gerak waktu. Dan beigtulah, di perpusatakaan ketil itu, si lelaki muda bertahan. Teman-temannya melintasinya, menatap sekials padanya, dan meneruskan kembali perjalanan mereka ke masa depan dengan langkah masing-masing.
Di jalan Vikoriastrasse no. 27. Di Berne, seorang gadis berbaring di ranjangnya. Suara orangtuanya terdengar sampai ke kamar. Ia menutup telinga dan menatap potret yang ada di atas meja, potret dirinya semasa bocah, berjongkok di pantai bersama ibu bapaknya. Di salah satu sisi dinding berdiri meja kayu chesnut. Baskomposelen di atas meja. Cat biru dinding mengelupas dan retak-retak. Di bawah ranjang, satu tas terbuka, terisi setengah dengan pakaian miliknya. Ia menatap potret di atas meja, lalu mengilang dalam waktu. Masa depan memanggilnya. Ia telah membuat keputusan. Belum selesai berkemas, bergegas ia keluar rumah, dan di titik dalam hidupnya inilah ia menerjang masa depan. Dengan cepat melintasi satu tahun di depan, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dan akhirnya ia menginjak rem. Namun, ia bergerak demikian cepatnya hingga tidak mampu memperlambat langkahnya. Kini ia berumur limapuluh tahun. Peristiwa-peristiwa yang berpacu melewati pandangannya hampir-hampir tak bisa dilihatnya. Seorang pengacara botak menghamilinya, kemudian meninggalkannya. Gambar-gambar kabur dari masa kuliah. Apartemen kecil di Lausanne sebagai tempat tinggal sementara. Seorang teman perempuan di Fribourg.
Kunjungan-kunjungan pada orangtuanya tampak kelabu. Kamar rumah sakit tempat ibuna meninggal. Apartemen lembab di Zurich, bau bawang putih, tempat ayahnya meninggal. Surat dari anaknya, yang tinggal di satu tempat di Inggris.
Perempuan itu menghela napas. Ia berumur limapuluh tahun. Berbaring di ranjang, mencoba mengingat kehidupannya, menatap potret dirinya kala bocah saat berjongkok bersama ibu bapaknya di pantai.
(Salah satu tulisan dalam buku Einstein's Dreams)
Di dunia ini, waktu adalah dimensi yang terlihat. Seperti halnya orang bisa menatap rumah-rumah, pohon-pohon, dan puncak gunung di kejauhan sebagai suatu pertanda adanya dimensi ruang. Hal serupa terjadi ketika orang menatap ke arah yang berlawanan dan tampaklah kelahiran-kelahiran, pernikahan-pernikahan, kematian-kematian sebagai pertanda adanya dimensi waktu, merentang suram di masa depan yang jauh. Dan, seperti halnya orang bisa berpindah tempat, orang juga bisa memilih gerak pada poros waktu. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang meilintas.
Di satu politeknik di Zurich, seorang lelaki muda duduk bersama pembimbingnya di ruang perpustakaan yang kecil, membahas disertasi doktoratnya. Saat ini bulan Desember, rak marmer putih di atas tungku perapian, dan bunga api memercik. Lelaki muda dan gurunya itu duduk di kursi oak yang nyaman, dan diatas meja bundar penuh kertas-kertas hitungan. Peneltian itu memang sulit. Tiap bulan, dalam 18 bulan terakhir, lelaki muda itu selalu menjumpai profesornya di ruangan itu, meminta bimbingan dan dorongan, meneruskan pekerjaan dan datang lagi pada bulan berikutnya dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Sang profesor selalu menyediakan jawaban-jawaban. Dan hari ini, lagi, sang profesor memberi penjelasan. Ketika pembimbingnya berbicara, lelaki muda itu memandang keluar jendela, mengamati salju yang menempel di pohon cemara di sebelah gedung, bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa meraih gelar kelak. Duduk di kursi, lelalki muda itu kemudian melangkah ke masa depan dengan ragu-ragu, dan dalam beberapa menit telah sampai ke masa depan, gemetar karena kedinginan dan ketidakpastian. Ia menarik diri kembali ke belakang. Lebih baik ia tetap bertahan di saat ini, di samping hangatnya api, di samping hangatnya bimbingan sang profesor. Jauh lebih baik menghentikan gerak waktu. Dan beigtulah, di perpusatakaan ketil itu, si lelaki muda bertahan. Teman-temannya melintasinya, menatap sekials padanya, dan meneruskan kembali perjalanan mereka ke masa depan dengan langkah masing-masing.
Di jalan Vikoriastrasse no. 27. Di Berne, seorang gadis berbaring di ranjangnya. Suara orangtuanya terdengar sampai ke kamar. Ia menutup telinga dan menatap potret yang ada di atas meja, potret dirinya semasa bocah, berjongkok di pantai bersama ibu bapaknya. Di salah satu sisi dinding berdiri meja kayu chesnut. Baskomposelen di atas meja. Cat biru dinding mengelupas dan retak-retak. Di bawah ranjang, satu tas terbuka, terisi setengah dengan pakaian miliknya. Ia menatap potret di atas meja, lalu mengilang dalam waktu. Masa depan memanggilnya. Ia telah membuat keputusan. Belum selesai berkemas, bergegas ia keluar rumah, dan di titik dalam hidupnya inilah ia menerjang masa depan. Dengan cepat melintasi satu tahun di depan, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dan akhirnya ia menginjak rem. Namun, ia bergerak demikian cepatnya hingga tidak mampu memperlambat langkahnya. Kini ia berumur limapuluh tahun. Peristiwa-peristiwa yang berpacu melewati pandangannya hampir-hampir tak bisa dilihatnya. Seorang pengacara botak menghamilinya, kemudian meninggalkannya. Gambar-gambar kabur dari masa kuliah. Apartemen kecil di Lausanne sebagai tempat tinggal sementara. Seorang teman perempuan di Fribourg.
Kunjungan-kunjungan pada orangtuanya tampak kelabu. Kamar rumah sakit tempat ibuna meninggal. Apartemen lembab di Zurich, bau bawang putih, tempat ayahnya meninggal. Surat dari anaknya, yang tinggal di satu tempat di Inggris.
Perempuan itu menghela napas. Ia berumur limapuluh tahun. Berbaring di ranjang, mencoba mengingat kehidupannya, menatap potret dirinya kala bocah saat berjongkok bersama ibu bapaknya di pantai.
Mimpi-Mimpi Einstein
Insyaallah, pelan-pelan saya akan coba tulis ulang kedalam blog ini tulisan-tulisan yang ada pada buku Einstein Dream karya Alan Lightman. Lewat suatu daya imajinasi yang hebat, Alan lightman menuangkan ide Einstein tentang waktu dalam bentuk cerita yang indah. Ops, dengar tentang ide Einstein jangan buru-buru tutup halaman ini, karena beranggapan tulisan ini bakal serius banget, bakal banyak rumusnya dan lain-lain. Gak bakal ada, yang dibutuhkan dalam membaca buku ini adalah bagaimana bisa menangkap imajinasi dari pengarang yang sangat brilian, sangat imajinatif dalam menterjemahkan suatu yang rumit dalam fisika, dalam satu alur cerita yang mudah dicerna.
Sebagai contoh, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana jika kehidupan kita abadi, bagaimana jika kita hanya hidup satu hari. Pernahkan kepikiran bagaimana jika waktu itu tidak kontinu, tiba-tiba berhenti, tiba-tiba merenggang, tiba-tiba berjalan cepat. Bagaimana jika waktu itu suatu dimensi yang terlihat, sehingga jika menengok ke belakang kita akan tahu bagaimana masa kecil, dan jika melihat kedepan, kita akan sangat gampang menghapal apa yang akan terjadi kemudian dan kita bisa melompat ke masa manapun yang kita inginkan. Bagaimana jika waktu adalah suatu persepsi, tiap orang mempersepsikan waktu berdasarkan penglihatannya. Tidak ada menit, jam dan hari dengan waktu seperti ini. Yang ada hanya persepsi masing-masing orang akan suatu kondisi. Semua itu dicoba gambarankan oleh Alan Lightman dalam satu perumpamaan yang sangat indah.
Dari pandangan seorang fisikawan, ngomongin waktu sebenarnya ngomongin cahaya, bagaimana suatu peristiwa merupakan satu titik dalam garis cahaya. Bingung khan, itu pikiran orang-orang fisika hehehe (hmmm, apanya yang lucu ☺) . Biar mudah dicerna, nonton filmnya Dejavu – Danzel Washington. Di film itu si ilmuwannya akan menerangkan bahwa jika cahaya bergerak diagonal pada suatu bidang datar, kita bisa melipat cahaya tersebut, sehingga dua peristiwa akan dapat digabung dalam satu waktu, padahal satu peristiwa terjadi di masa lampau sementara satunya lagi adalah masa sekarang. Hasilnya suatu kejadian dimasa lampau bisa benar-benar terlihat dimasa sekarang, itulah Dejavu. Masih bingung kan, tonton aja deh, ntar kalau gak ngerti bisa di terangin :D
Terakhir, bagi yang males mikir, boleh lewatkan tulisan-tulisan yang ada di blog dengan tema ini. Tapi bagi yang suka akan suatu imaginasi, tulisan ini surganya.
So, enjoy..
Nb. Buku Mimpi-Mimpi Einstein terbitan dari KPG (Keperpustakaan Populer Gramedia), terjemahan dari buku Einstein’s Dreams karya Alan Lightman
Insyaallah, pelan-pelan saya akan coba tulis ulang kedalam blog ini tulisan-tulisan yang ada pada buku Einstein Dream karya Alan Lightman. Lewat suatu daya imajinasi yang hebat, Alan lightman menuangkan ide Einstein tentang waktu dalam bentuk cerita yang indah. Ops, dengar tentang ide Einstein jangan buru-buru tutup halaman ini, karena beranggapan tulisan ini bakal serius banget, bakal banyak rumusnya dan lain-lain. Gak bakal ada, yang dibutuhkan dalam membaca buku ini adalah bagaimana bisa menangkap imajinasi dari pengarang yang sangat brilian, sangat imajinatif dalam menterjemahkan suatu yang rumit dalam fisika, dalam satu alur cerita yang mudah dicerna.
Sebagai contoh, pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana jika kehidupan kita abadi, bagaimana jika kita hanya hidup satu hari. Pernahkan kepikiran bagaimana jika waktu itu tidak kontinu, tiba-tiba berhenti, tiba-tiba merenggang, tiba-tiba berjalan cepat. Bagaimana jika waktu itu suatu dimensi yang terlihat, sehingga jika menengok ke belakang kita akan tahu bagaimana masa kecil, dan jika melihat kedepan, kita akan sangat gampang menghapal apa yang akan terjadi kemudian dan kita bisa melompat ke masa manapun yang kita inginkan. Bagaimana jika waktu adalah suatu persepsi, tiap orang mempersepsikan waktu berdasarkan penglihatannya. Tidak ada menit, jam dan hari dengan waktu seperti ini. Yang ada hanya persepsi masing-masing orang akan suatu kondisi. Semua itu dicoba gambarankan oleh Alan Lightman dalam satu perumpamaan yang sangat indah.
Dari pandangan seorang fisikawan, ngomongin waktu sebenarnya ngomongin cahaya, bagaimana suatu peristiwa merupakan satu titik dalam garis cahaya. Bingung khan, itu pikiran orang-orang fisika hehehe (hmmm, apanya yang lucu ☺) . Biar mudah dicerna, nonton filmnya Dejavu – Danzel Washington. Di film itu si ilmuwannya akan menerangkan bahwa jika cahaya bergerak diagonal pada suatu bidang datar, kita bisa melipat cahaya tersebut, sehingga dua peristiwa akan dapat digabung dalam satu waktu, padahal satu peristiwa terjadi di masa lampau sementara satunya lagi adalah masa sekarang. Hasilnya suatu kejadian dimasa lampau bisa benar-benar terlihat dimasa sekarang, itulah Dejavu. Masih bingung kan, tonton aja deh, ntar kalau gak ngerti bisa di terangin :D
Terakhir, bagi yang males mikir, boleh lewatkan tulisan-tulisan yang ada di blog dengan tema ini. Tapi bagi yang suka akan suatu imaginasi, tulisan ini surganya.
So, enjoy..
Nb. Buku Mimpi-Mimpi Einstein terbitan dari KPG (Keperpustakaan Populer Gramedia), terjemahan dari buku Einstein’s Dreams karya Alan Lightman
Wednesday, May 16, 2007
Sunday, May 06, 2007
Canda Ala Sufi
Buat refresh aja..
Sedang Mimpi Indah, Ambilkan Kacamataku
Suatu hari, Nashruddin bangun tidur. Dia lalu berkata pada istrinya, “Tolong, ambilkan segera kaca mataku, sebelum mimpiku hilang.”
Sang istri langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambilkannya, lalu berkata, “mengapa harus pakai kaca mata segala?” Nashruddin menjawab, “Aku sedsang bermimpi sesuatu yang sangat lembut dan aku ingin melihat lebih jeli hal-hal yang belum jelas, dengan kaca mata ini.”
Tak Tahu Hitungannya
Nashruddin menikah. Istrinya lalu memberi tahu padanya bahwa dia telah hamil sejak tiga bulan lalu. Dia meminta padanya agar segera memanggilkan bidan. Nashruddin berkata, “Kami sudah tahu bahwa wanita melahirkan ketika bayi dalam kandungannya sudah sembilan bulan, lalu apa maksudnya ini?”
Istri Nashruddin marah dan berkata, “Aneh sekali kau ini. Hai, sudah berapa lama kita menikah? Bukankah tiga bulan lalu?” Nashruddin menjawab, “Ya..” Istri Nashrudding bertanya kembali, “Bukankah kamu tinggal bersamaku sudah tiga bulan? Jadi, enam bulan bukan?” Nashruddin menjawab, “Ya…” lalu istri Nashruddin kembali bertanya, “Dan janin yang ada di perutku ini sudah tiga bulan, sehingga seluruhnya menjadi sembilan bulan.”
Setelah lama berpikir, Nashruddin berkata, “Kamu benar, karena aku tidak dapat menghitung dengan teliti... maaf, aku yang salah.”
Ayam Itu Tak Tahu Jalan
Suatu hari, Nashruddin meletakkan beberapa ekor ayam jantan miliknya dalam ssebuah sangkar besar. Dia lalu membawanya dari kota ke kota lainnya untuk dijual.
Di tengah jalan, dia merasa sangat berat membawa kurungan itu. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa binatang-binantang itu akan segera mati,karena satu sama lain saling berhimpitan dan kepanasan. Tak ada jalan lain kecuali melepaskan semuanya, agar mereka hidup bebas sesuai dengan keinginannya.
Nashruddin membuka pintu sangkar itu. Satu persatu ayam Nashruddin keluar dan terbang berhamburan. Nashruddin mengambil tongkatnya lalu pergi. Namun, tiba-tiba dijumpainya seekor ayam yang sedang terdiam. “Sialan!, semoga kamu cepat mati. Kamu dapat membedakan waktu subuh dan waktu tengah malam, namun mengapa kamu tidak tahu jalan siang-siang begini.”
Buat refresh aja..
Sedang Mimpi Indah, Ambilkan Kacamataku
Suatu hari, Nashruddin bangun tidur. Dia lalu berkata pada istrinya, “Tolong, ambilkan segera kaca mataku, sebelum mimpiku hilang.”
Sang istri langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambilkannya, lalu berkata, “mengapa harus pakai kaca mata segala?” Nashruddin menjawab, “Aku sedsang bermimpi sesuatu yang sangat lembut dan aku ingin melihat lebih jeli hal-hal yang belum jelas, dengan kaca mata ini.”
Tak Tahu Hitungannya
Nashruddin menikah. Istrinya lalu memberi tahu padanya bahwa dia telah hamil sejak tiga bulan lalu. Dia meminta padanya agar segera memanggilkan bidan. Nashruddin berkata, “Kami sudah tahu bahwa wanita melahirkan ketika bayi dalam kandungannya sudah sembilan bulan, lalu apa maksudnya ini?”
Istri Nashruddin marah dan berkata, “Aneh sekali kau ini. Hai, sudah berapa lama kita menikah? Bukankah tiga bulan lalu?” Nashruddin menjawab, “Ya..” Istri Nashrudding bertanya kembali, “Bukankah kamu tinggal bersamaku sudah tiga bulan? Jadi, enam bulan bukan?” Nashruddin menjawab, “Ya…” lalu istri Nashruddin kembali bertanya, “Dan janin yang ada di perutku ini sudah tiga bulan, sehingga seluruhnya menjadi sembilan bulan.”
Setelah lama berpikir, Nashruddin berkata, “Kamu benar, karena aku tidak dapat menghitung dengan teliti... maaf, aku yang salah.”
Ayam Itu Tak Tahu Jalan
Suatu hari, Nashruddin meletakkan beberapa ekor ayam jantan miliknya dalam ssebuah sangkar besar. Dia lalu membawanya dari kota ke kota lainnya untuk dijual.
Di tengah jalan, dia merasa sangat berat membawa kurungan itu. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa binatang-binantang itu akan segera mati,karena satu sama lain saling berhimpitan dan kepanasan. Tak ada jalan lain kecuali melepaskan semuanya, agar mereka hidup bebas sesuai dengan keinginannya.
Nashruddin membuka pintu sangkar itu. Satu persatu ayam Nashruddin keluar dan terbang berhamburan. Nashruddin mengambil tongkatnya lalu pergi. Namun, tiba-tiba dijumpainya seekor ayam yang sedang terdiam. “Sialan!, semoga kamu cepat mati. Kamu dapat membedakan waktu subuh dan waktu tengah malam, namun mengapa kamu tidak tahu jalan siang-siang begini.”
Subscribe to:
Posts (Atom)