Sunday, December 30, 2007

Mana tuan mu

Lagi semangat nulis, jadi lanjutin akh. Setelah selesai dengan tentang Vietnam, saya jadi keingat tentang masalah nasionalisme. Kecintaan terhadap negeri ini. Meski baru mengunjungi negeri orang bisa di itung dengan jari, dan itupun variasinya ga banyak, tapi satu yang bisa saya simpulkan, I luv my country.

Saya ga perlu dengan perempamaan 'hujan emas di negeri orang - hujan batu di negeri sendiri' buat menggambarkan kecintaan atas negeri sendiri, karena itu berlebihan, kalau ada hujan emas di negeri orang pasti harga emas bakal jatuh dong, ngapain kesana hehehe... So, apa yang bikin saya sangat cinta akan negeri ini, lebih karena suasana religiusnya. Satu hal yang selalu saya ingatkan ke teman-teman yang pengen kerja keluar negeri sana, bagi mereka yang muslim, percaya deh, anda tidak akan mendapatkan suasana tersebut. Paling simple adalah, anda tidak akan pernah dibangunkan dengan yang namanya azam subuh, anda tidak akan pernah merasakan enaknya suasana jum'atan seperti jum'atan disini, meski disini kalau jum'atan sering sendalnya raib terbawa kaki-kaki yang tidak bertanggung jawab, tapi tetap shalat disini jauh lebih enak. Belum lagi lebaran, uuhhhh, anda ga akan bisa menikmati gema takbir, hangatnya suasana mudik, tidak cuma perjalanannya tapi suasana keriuhannya menjelang mudik dan juga arus balik, dan tentu puncaknya lebaran.. dijamin, anda tidak akan bisa menikmati.

Masing-masing orang mungkin beda-beda yaaa, tapi bagi saya pribadi tidak ada yang lebih berharga didunia ini kecuali yang namanya nuansa religi, dan negara ini dengan kebobrokan mental orang-orangnya, masih jauh nuansa religinya daripada dimanapun..

Trus, ada yang nanya, bagaimana jika kerja nya ke Malaysia, yaaa kalau Malaysia siy ga jauh kayak indonesia, ngapain merantau kesana.. negara Arab, akhh males, seberapapun banyaknya duit disana, anda tetap seperti bangsa budak disana, bangsa kelas bawah dimata mereka, ngapaiin.. Jadi ingat cerita teman, dia kerja di offshore, dan kebetulan checkpointnya di salah satu negara Arab. Naah ketika dia nyampe di bandara, petugas bandaranya nanya 'Mana tuan mu'.. gubrak, capeee dey, emang enak dikira pembantu - TKI.. sebegitu rendahnya orang kita dimata orang sana.. :(


Oo yaa berikut tampilan sicindai di sicindai.wordpress.com, lebih simple tapi, hmmm enak diliat.. suatu saat sicindai akan pindah ke wordpress, si hantu tarok ini udah ga nyaman lagi dia berayun di pohon blogspot.

Antara Hanoi dan Purwokerto

Judul posting ini terinspirasi lagu Antara Anyer dan Jakarta. Ngomongin lagu tersebut, tapi pagi dengar bukannya jadi terhibur justru seperti mengorek luka lama, kehilangan jaket ketika acara kantor awal desember kemaren, hah.. forget it, toh jaketnya juga udah ketemu ^^.

Ooo yaa judul tersebut berkaitan dengan rubrik Perjalanan dan Santap di Kompas hari ini yang diisi oleh Bre Redana. Rubrik pertama membahas perjalanan Bre ke Vietnam, sangat menarik terutama tentang kesederhanaan orang-orang Vietnam dan kebanggaan mereka sebagai bangsa Viet. Ga kebayang, seorang pemandu wisata tidak mau ditaawari ikutan makan atau cuma sekedar minum di cafe demi menjaga etika profesi, plus katanya ga enak sama supir biro perjalanan yang nunggu diluar, karena si supir cuma dibayar 1 USD per hari sementara makanan dan minum di cafe, kebayang harganya brapa. Belum lagi bagaimana pemandu wisata selalu mengingatkan wisatawan agar tidak membeli barang kerajinan dari anak-anak karena akan mendorong anak-anak meninggalkan sekolahnya demi uang. Sungguh suatu kesadaran sosial yang sangat bagus, sebagai cermin tanggung jawab mereka akan masa depan bangsanya.

Bandingkan semua itu dengan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Belum lagi betapa banyaknya anak-anak yang berkeliaran meminta-minta di tiap-tiap lampu merah di jakarta. Ooo yaa katanya di Vietnam juga tidak ada pengemis. Kalau dibilang hidup susah, mungkin lebih banyak orang Vietnam yang hidupnya lebih susah dari pengemis disini. Dan benar kata Bre, itu masalah mental, masalah rasa malu, dan itu yang ga dimiliki para pengemis disini. Kalau sebenarnya mereka punya rasa malu dan sedikit mau berusaha, betapa banyaknya posisi pembantu rumah tangga yang ada sekarang, liat aja betapa susahnya orang-orang nyari pembantu rumah tangga saat ini.

Ooo yaaa saya teringat Biography Pope Paulus II belum lama ini, dalam biography tersebut sang Pope sempat berkata bahwa demokrasi yang dia liat ketika Polandia beralih jadi negara yang demokratis membuat orang-orangnya lebih materialisme. Sepertinya berlaku juga sekarang di Indonesia, bandingkan dengan sebelum reformasi, betapa orang-orang tidak se matre semperti sekarang. Demokrasi telah menyebabkan arus informasi begitu bebas, iklan dan perusahaan luar yang menyebabkan kita jadi konsumtif, dan tentu UUD, ujung-ujungnya duit.. naah makanya dibilang matre.. Ternyata ada enaknya juga jadi negara sosialis seperti Vietnam ^^

Oke, cukup dulu yang serius di rubrik Perjalanan, jadi kepengen wisata ke Vietnam, bebas Visa ga yaaa? Kita sekarang pindah ke Purwokerto yang ada di rubrik Santap. Sesuai namanya, pasti ngomongin makanan. Naah saya baru tau ternyata tempe mendoan itu dari Purwokerto, kok ada teman yang orang purwokerto ga pernah cerita yaaa hehehe.. Rasa tempenya kan mantap banget tuh. Di kantin salah satu kantor BRI di Jakarta saya pernah nyoba tempe yang menurut saya sepertinya merupakan tempe mendoan, digoreng ga terlalu mateng, dan dimakan dengan cabe rawit... persis.. persis..

Trus di rubrik ini juga cerita tentang soto ayam Jalan Bank. Kalau dalam perjalanan mampir ke Purworkerto jangan lupa mamping ke Soto Ayam Jalan Bank, soto ayam dengan kuah kaldu dan paling terkenal dikota tersebut, sampai-sampai Gus Dur dan Megawati pun selalu pesan dihidangkan soto ayam tersebut kalau kebetulan kunjungan ke Purwokerto.. yamie..

Jadi pengen juga ke Purwokerto yang kata Bre Redana bagus dijadiin sebagai base kalau mau ke dataran tinggi Dieng.. kapan yaaa.. perlu visa juga ga yaaa kalau kesana hihihi.. Visa electron kali yaa, tapi emang di Purwokerto terima kartu Kredit.. hehehe..

Wisata Kuliner ala Sicindai

Belum lama ini seorang teman SMS bilang bahwa dianya lagi mau bikin macaroni schotel, hmmm, makanan apaan tuh, saya taunya cuma scoteng yang banyak ditemui waktu kuliah di bandung, maklum orang desa, ga tau varian macaroni. Trus, si teman nanyain apa sayanya mau.. Jawabannya jelas tidak. Pertama, karena saya ga suka yang namanya makaroni, kalau ga salah itu bahan dasarnya dari keju yaa, dan saya ga pernah suka dengan makanan yang berasal dari keju-kejuan. Yang kedua, seperti alasan saya ke teman tersebut, saya udah bosan dengan yang namanya makanan western-an. Bukannya mau sombong, setelah nyoba berbagai macam makanan luar baik makanan barat, jepang, korea maupun cina, mulai dari yang harganya belasan ribu kayak hokben, sampai yang harganya seabreg-abreg, 200-300 ribu se persi, yang 500-600 rebuan pernah ga yaaa, lupa... maklum biasanya yang mahal-mahal biasanya di traktir, dan saya sama beberapa orang teman biasanya ga tau malu, kalau di traktir sukanya justru nyari yang paling mahal, maksud kita siy sebenarnya baek, buat nge-test seberapa ikhlasnya si orang yang ntarktir halah... naaah setelah nyoba semua itu, lidah akhirnya nyerah, dia ga bisa dibohongi dengan embel-embel harga yang mahal, lidah udah angkat tangan pengennya tetap makanan Indonesia, ga harus padang.. maklum beberapa teman asal padang biasanya maniak banget sama makanan padang, dan kemana-mana slalu nyari makan padang, gimana ga kena kolesterol, makan padang mulu.. Naah saya bilang ke teman tapi, yang sama pengenin sekarang makan telur dan pete rebus, dengan sambel yang dibikin dari cabe, tomat dan bawang yang direbus kemudian diulek dengan sedikit garam jadi 'sambel lado bauwok' (uwok = uap dalam bahasa padang)... nyaam, i miss that taste.. Maklum itu makanan klasik, dulu waktu kecil-kecil, nyokap suka bikin, dan biasanya dihidang dengan nasi panas.. yami...^^

Hmmm, terlalu panjang yaa buat sebuah intro, hehehe, penulis yang aneh. Sebenarnya disini saya mau omongin masalah makanan, wisata kulinernya ala sicindai ^^. Berhubung lagi libur panjang, kalau teman-teman yang ga kemana-mana, alias ngendon di jakarta, cara paling enak buat habisin liburan yaaa nyari makanan yang enak-enak. Ngomongin makanan yang enak-enak, Jakarta adalah tempatnya. Sebenarnya salut sama yang bikin makanan, khususnya makanan daerah disini, karena rasanya yang bisa diterima oleh semua orang Jakarta, yang pasti dari etnis yang bermacem-macem. Oke biar ga bertele-tele, berikut beberapa rekomendasi tempat makan yang enak:

1. Saung Greenville
Berada di komplek Greenville jakarta barat, kalau ga tau dimana greenville, sebaiknya jalan arah grogol, trus disamping komplek apartment belok ke kiri, arah ke kebon jeruk.. naah tanya-tanya aja sama orang-orang disana dimana arah greenville. Ooo yaaa, saya taruh ini diurutan teratas karena untuk makanan Seafood hmmm rasanya yang euunaak banget. Saya rekomendasiin kepiting rasa saus padang dan rasa lada hitam, rasanya TOPBGT. Atau udang tepungnya juga oke.. Ditemani dengan sayur, waduh saya lupa namanya, pokoknya sayurnya itu rasanya juga mantap. Kalau ada yang minat, ntar saya temanin milihin sayurnya. Naah berhubung rasanya mantep, harga yaa ga bisa boong, muahal.. hmm saya biasanya sama teman-teman 6-8 orang, abisnya sekitar sejutaan, hmm worth it lah (bener yaa tulisannya ^^)

2. Butika
Saya ga ingat spelling sebenarnya, tapi kira-kira namanya seperti itu. Makanan khas Manado, saya taruh di list kedua. Rasanya juga mantap, yang pasti pedes-pedes, manado bo'. Ada ayam rica-rica, apa lagi yaa, pokoknya banyak yang enak deh. Lokasinya yang saya tau ada dua, satunya di jalan Abdul Muis (dekat BRI ^^), yang satunya dijalan apa yaa, dekat universitas Mustopo kalau ga salah, pokoknya disekitar bundaran senayan (ratu plaza, kesonoan dikit ^^)

3. Ampera
Makanan khas sunda berada di list ketiga. Ada macem-macem makanan dengan olahan khas sunda. Sebagai orang yang cukup lama di bandung, maklum kuliah ga lulus-lulus, saya termasuk orang yang suka makanan sunda, karena bumbunya yang cendrung flat yang ga bikin sakit perut, plus ditambah lalapan yang bagus untuk kulit. Makanya orang sunda kulitnya bagus-bagus yaaa.. Ooo yaa, ampera itu di jakarta setau saya ada di jalan Ampera sendiri, kejauhan yaaa.. kalau di tengah kota ada di Benhil, lagi samping BRI, trus di jakarta barat juga ada yang baru, gede banget dekat fly over kebun jeruk arah kedoya (RCTI kesono lagi..^^). Kalau ga tau ntar tak temanin ^^

4. Bebek Yogi
Katanya orang surabaya jago ngolah bebek, naaah ini terbukti. Bebek yogi ada beberap bumbu, sambel merah sama sambel ijo, tapi biasanya orang-orang milihnya justru dimakan dengan sambel mangga yang ada di tiap meja makannya, tapi biasanya karena keenakan, kebanyakan orang lupa diri, dan ujung-ujungnya pada mules sakit perut. Bebeknya gurih, ga ada bau amis sedikitpun, maklum dengar-dengar kalau ngolah bebek ga jago, amisnya bakal kecium, tapi yang ini ga. Lokasi yang saya tau ada di lagi-lagi kebon jeruk, dekat pertigaan Relasi.

5. Soto Tangkar
Saya lupa nama jalan atau wilayahnya, tapi dia berada ga jauh dari Electronic City nya SCBD. Pertama dikenalin sama teman yang doyan makan soto kamping. Sebagai orang dengan lidah padang, saya sebenarnya ga begitu suka sama soto tangkar, tapi yang satu ini diakui enak.

6. Soto Padang Sutan Mangkuto
Dari namanya udah jelas, soto padang, dari mana lagi asalnya kalau ga padang. Lokasinya ada di dekat Stasium kereta pasar baru. Ciri khasnya, ketika anda datang, anda cuma akan ditanya mau minum apa, karena yang dihidang disana memang cuma soto. Dengan harga soto tanpa nasi 18 ribu, dari harganya yang mahal kebayangkan rasanya. Soto padang yang paling enak yang pernah saya coba, bahkan jika dibandingkan dengan soto padang yang ada di padang sana. Kalau ga salah soto ini udah ada dari tahun 1926.. mantaappp....

7. Mie Aceh Mutia
Sebenarnya namanya Rumah Makan Aceh Mutia, tapi karena saya paling demannya mie nya, makanya saya rekomendasikan Mie. Ada berbagai macam pilihan mie aceh disana. Dengan rasa yang gurih dan sepertinya mie olahan sendiri, sehingga rasanya sangat unit. Kalau makannya enakan ditemanin sama teh tarik dan roti cane sebagai makanan pembuka. Lebih enak lagi kalau saya yang nemanin, halah ^^

8. Seafood Benhil
Punteun, pohok urang euy namina, ntar kalau inget di update. Lokasinya pastinya di benhil, depan BCA benhil, ga jauh dari Mie Aceh Mutia. Bukanya biasanya abis magrib. Ada aneka seafood yang bisa dipilih. Kita-kita biasanya pilih ikan-ikanan. Paling tambah udang tepung. Harga, hmm kalau rame-rame paling masing-masing orang 40-50 ribu.

Apa lagi yaaa, udahan itu dulu, kalau tetap pengen nyoba yang sedikit western, ada steak Abuba, di daerah Cipete. Harganya berkisar 80-100 ribuan kalau ga salah dengan minuman. Tapi sebenarnya nanggung, mending American Grill aja, dengan 150 ribu bisa makan sepuasnya. Walau dengan porsi lebih kecil, tapi untuk rasa, harga ga bisa boong. Trus yang western lagi ada Blinger Berger, kalau ga salah asalnya di bintaro sana, tapi sekarang udah franchise, jadi ada dimana-mana, salah satunya bisa beli di dekat Seafood benhil, ada gerobaknya. Ukuran besar, dengan rasa yang enak, plus harganya murah, sepertinya dapat jadi pilihan terbaik dibandingin beli berger kayak di Wendy's atau McD. Trus kata teman juga ada sandwich bakar di daerah Kedoya, kebun jeruk. Saya sendiri blum pernah nyoba, karena teman yang bilang enak blum pernah nraktir ^^, tapi sepertinya wajib dicoba.

Oke, itu aja, ngantuk, kebangun dari jam tiga, ini udah jam hampir jam 6 pagi.. udah MU-nya kalah, ngeselin... selamat mencoba, kalau butu teman, boleh ditemanin, asal dibayarin. Slamat liburan

Di laptop lagi lagunya Look what love has Done dari petty smith, theme song yang pas buat pagi ini ^^

I woke up this morning feeling lonely
There's so much my heart just does not understand
there were times nothing really mattered
now i find i care to much
there's life in everything i touch
look at what love has done to me
i'm not who i used to be
everyhing is changing, and i will never be the same

look at what love has done to us
when will we ever learn to trust
were runnnig out of time, so little time baby
look at what love has done to me

Uuuuaaahhh, tiduuuuuurrr...

Friday, December 28, 2007

We are the kampiun

Hhhhhmmmmeeee.. manisnya...

Husss, jangan mikir macem-macem dulu, bukan ce tapi ini bubur kampiun. Barusan titip makanan ke OB bubur kampiun di Buffet Mini Benhil, tadinya mikir mau lontong sayur padang, tapi karena sepertinya pencernaan lagi ga bagus, apalagi masih pagi, yaaa udah mutusin beli bubur kampiun.

Bubur kampiun, itu nama dalam bahasa padang, ga tau dalam terminologi jawa atau daerah lain ada ga yang disebut sebagai bubur kampiun. Kenapa disebut bubur kampiun, ga tau..!! tapi sepertinya karena canpuran segala macem bubur, ada kolak, bubur kancang ijo, cande (tepung ketan yang dibulatin trus dibikin kayak kolak), bubur sumsum, ketan, sarikaya, apalagi yaa itu namanya bubur yang warnanya merah-merah, ga tau ding. Tapi semuanya dicampur dan jadilah satu bubur, kampiun. Sepertinya sarikaya yang dibuat dari telur yang dikasih gula aren, trus di kocok.. truss diapain lagi yaaa sehingga jadi kayak bubur sumsum dengan warna coklat. Naah ini nih sepertinya penyumbang rasa manis terebesar...

daah akh, lanjutin lagi..hmmm muaniisss..,
go head bekerja...