Thursday, May 31, 2007

Sujud

Jalaluddin Rumi bercerita, alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan.

Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu.

Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, "Apa yang kau lakukan?" Lelaki yang kehausan menjawab, "Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan."

"Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan."

"Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu."

"Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan...."

Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, "Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?" Lelaki itu menjawab, "Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci." Sungai itu berkata lagi, "Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu."

Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud." Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan.

Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja."

Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja.

Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun.

(Dikutip dari tulisan Jalaluddin Rakhmat: Lailatul Qadar, malam pengampunan)
She's out of my life

She's out of my life
She's out of my life
And I don't know whether to laugh or cry
I don't know whether to live or die
And it cuts like a knife
She's out of my life

It's out of my hands
It's out of my hands
To think for two years she was here
And I took her for granted I was so cavalier
Now the way that It stands
She's out of my hands

So I've learned that love's Not Possession
And I've learned that love won't wait
Now I've learned that love needs expression
But I learned too late

She's out of my life
She's out of my life
Damned Indecision and cursed pride
Kept my love for her locked deep Inside
And it cuts like a knife
She's out of my life


(kok jadi melo gini..damn.! hehehe...)

Tuesday, May 29, 2007

KOMITMEN

Komitmen. Kata-kata yang berusan terlintas dalam pikiran. Satu kata yang sepertinya sangat keramat, khususnya dalam hal ‘relationship’. Relationship, itu kata kedua yang juga terlintas, tapi gak usah di bahas, agak nyakitin, hik..hik.. ☺. Beberapa waktu yang lalu seorang teman finally mengutarakan niatnya untuk mengajak menikah wanita yang selama ini menjadi incarannya. Tidak ada kata cinta, be my girl friend atau kata lainnya. Yang ada adalah ungkapan yang menunjukkan suatu komitmen, want you marry me.

Tidak semua orang mampu berkomitmen, termasuk saya mungkin. Bagi sebagian orang komitmen seperti berjudi dengan seluruh pin yang dimiliki. Mereka gambling terhadap apa yang akan diterima setelah suatu yang namanya komitmen diutarakan. Mereka yang yakin terhadap kartu yang ada ditangan, tidak akan sulit untuk mempertaruhkan semuanya. Berbeda dengan mereka yang tidak memiliki kartu yang cukup meyakinkan, atau tidak memiliki gambaran terhadap kartu yang dimiliki sang lawan, langsung mempertaruhkan semua pin adalah suatu kekonyolan. Bagi mereka ini, tentunya akan lebih bijaksana jika berhati-hati dalam mempertaruhkan pin yang dimiliki. Mungkin melempar satu-dua pin untuk menunjukkan niat ikut dalam permainan dan demi mendapatkan sinyal terhadap kartu yang dimiliki lawan adalah tindakan yang tepat. Jika beberapa pin telah di lempar tapi tidak ada titik terang akan peluang memenangkan pertandingan, apapun langkah yang diambil adalah langkah terbaik. Toh tidak semuanya pin dipertaruhkan.

Jadi kapan komitmen harus diutarakan, yaitu ketika kita benar-benar ingin mengakhiri permainan, dan tentu dengan suatu kemenangan.

And you got it my friend, good luck :D

Tuesday, May 22, 2007

Buku-buku yang wajib dibaca
(Ini buku-buku favorit gue)

Harry Potter – Mencoba kembali ke imajinasi masa kanak-kanak

Mimpi-mimpi Einstein – Berimajinasi dengan hal yang lebih rumit, lebih serius tentang bagaimana orang fisika bercerita tentang waktu

Canda Sufi - Pengen bacaan ringan, lucu abis, tapi tersimpan banyak makna. Lagi-lagi daya imajinasi si pengarang (sebenarnya kemampuan ngeles si tokoh) benar-benar edan, padahal seorang Sufi.

Tetralogi Pramudya Ananta Toer - Satu karya sastra yang sangat indah, dan tertuang dalam 4 Buku. Plot cerita yang benar-benar kaya akan ide.

Musashi – Suatu karya tentang seorang laki-laki dan untuk laki-laki. Tapi juga cocok buat cewek, khususnya mengenal budaya jepang, dan ketegaran seorang wanita jepang yang bernama Otsu :D

Taiko - Buku tentang strategi, mungkin terjemahan yang lebih luas tentang filsafat Sun-Tzu.

Dan Brown Series - Novel yang kaya akan pengetahuan, bagaimana seharusnya suatu novel di tulis dimana diperlukan riset yang mendalam tentang banyak hal yang terkait dengan cerita.