Pujian
Seorang teman sempat mengingatkan saya ketika saya memberikan pujian pada seseorang lewat sebuah forum. Teman tersebut mengatakan, apakah saya yakin bahwa orang yang saya puji memang seperti pujian yang saya tulis di forum tersebut.
Ucapan teman tersebut menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini perihal motif seseorang melemparkan kata pujian. Dalam banyak hal, suatu pujian merupakan ungkapan yang ikhlas, ekspresi penghormatan terhadap orang lain. Hal ini sangat alamiah, banyak orang justru tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan penghargaannya atas apa yang dilihat atau dirasakan dari orang lain, yaa karakter, tindakan, bentuk fisik, bahkan terhadap hal-hal yang spesifik sekalipun seperti pujian akan senyum seseorang.
Pada kasus yang menjadi sorotan teman diatas, saya cendrung menggambarkan pujian tersebut adalah merupakan suatu pengharapan, terlepas dari kenyataan apa yang saya puji adalah suatu yang benar adanya ataupun tidak, saya berharap orang yang saya puji bisa seperti yang saya ucapkan. Disini pujian seperti sebagai sebuah do'a, dan biasanya yang memuji akan menggambarkan suatu yang ideal yang ada pada object yang di puji. Pujian ini akan bernilai positif, jika object yang di puji yang ternyata tidak seperti yang dipujikan, mencoba memperbaiki diri, membuktikan dirinya adalah seperti yang dipujikan.
Dalam hal strategi, pujian kadang bermata dua, ungkapan pujian terkadang sengaja dibuat agar object yang dipuji merasa tersanjung dan lupa diri. Terkadang disini pujian juga bertujuan untuk melihat respon orang yang di puji, apakah orang tersebut memiliki karakter sebagai orang yang gila akan pujian sehingga dapat dimanfaatkan. Banyak orang menggunakan strategi ini untuk menguasai dan mengendalikan orang lain. Pujian yang tidak ikhlas adalah seburuk-buruknya pujian :)
Sunday, May 06, 2007
Menghitung Pahala
Pagi ini saya mulai menghitung pahala kembali, pahala apa saja yang saya lakukan mulai dari brangkat ke kantor sampai sekarang posting blog ini. Pahala pagi ini mulai dari tersenyum pada tetangga ketika manasin motor, baca do'a ketika mau brangkat, mendahulukan mobil lain ketika berpapasan di pertigaan, atau menyalip bapak-bapak yang lagi ngantar 3 anaknya dengan sangat hati-hati.
Menghitung pahala bukan untuk tujuan hitung-hitungan dengan Tuhan, atau bukan juga untuk tujuan ria, berbangga diri, tapi lebih secara pisikologis memacu untuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Mengingat perbuatan baik, biasanya akan memberikan kepuasan batin tersendiri, sehingga kita akan terpacu untuk meraih kepuasan tersebut lebih banyak lagi dengan selalu berbuat baik.
Suatu pahala tidak harus berupa tindakan-tindakan besar berupa zakat atau ibadah seperti shalat dan puasa. Contoh diatas cukup menggambarkan, betapa hal kecilpun jika dilakukan dengan ikhlas, adalah suatu pahala. Ikhlas pun bukan suatu ucapan 'saya ikhlas', tapi berasal dari hati, semakin bersih hati semakin mudah untuk berbuat ikhlas.
So, udah berbuat baik apa aja pagi ini?
Pagi ini saya mulai menghitung pahala kembali, pahala apa saja yang saya lakukan mulai dari brangkat ke kantor sampai sekarang posting blog ini. Pahala pagi ini mulai dari tersenyum pada tetangga ketika manasin motor, baca do'a ketika mau brangkat, mendahulukan mobil lain ketika berpapasan di pertigaan, atau menyalip bapak-bapak yang lagi ngantar 3 anaknya dengan sangat hati-hati.
Menghitung pahala bukan untuk tujuan hitung-hitungan dengan Tuhan, atau bukan juga untuk tujuan ria, berbangga diri, tapi lebih secara pisikologis memacu untuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Mengingat perbuatan baik, biasanya akan memberikan kepuasan batin tersendiri, sehingga kita akan terpacu untuk meraih kepuasan tersebut lebih banyak lagi dengan selalu berbuat baik.
Suatu pahala tidak harus berupa tindakan-tindakan besar berupa zakat atau ibadah seperti shalat dan puasa. Contoh diatas cukup menggambarkan, betapa hal kecilpun jika dilakukan dengan ikhlas, adalah suatu pahala. Ikhlas pun bukan suatu ucapan 'saya ikhlas', tapi berasal dari hati, semakin bersih hati semakin mudah untuk berbuat ikhlas.
So, udah berbuat baik apa aja pagi ini?
Canda Ala Sufi
Buat refresh aja..
Sedang Mimpi Indah, Ambilkan Kacamataku
Suatu hari, Nashruddin bangun tidur. Dia lalu berkata pada istrinya, “Tolong, ambilkan segera kaca mataku, sebelum mimpiku hilang.”
Sang istri langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambilkannya, lalu berkata, “mengapa harus pakai kaca mata segala?” Nashruddin menjawab, “Aku sedsang bermimpi sesuatu yang sangat lembut dan aku ingin melihat lebih jeli hal-hal yang belum jelas, dengan kaca mata ini.”
Tak Tahu Hitungannya
Nashruddin menikah. Istrinya lalu memberi tahu padanya bahwa dia telah hamil sejak tiga bulan lalu. Dia meminta padanya agar segera memanggilkan bidan. Nashruddin berkata, “Kami sudah tahu bahwa wanita melahirkan ketika bayi dalam kandungannya sudah sembilan bulan, lalu apa maksudnya ini?”
Istri Nashruddin marah dan berkata, “Aneh sekali kau ini. Hai, sudah berapa lama kita menikah? Bukankah tiga bulan lalu?” Nashruddin menjawab, “Ya..” Istri Nashrudding bertanya kembali, “Bukankah kamu tinggal bersamaku sudah tiga bulan? Jadi, enam bulan bukan?” Nashruddin menjawab, “Ya…” lalu istri Nashruddin kembali bertanya, “Dan janin yang ada di perutku ini sudah tiga bulan, sehingga seluruhnya menjadi sembilan bulan.”
Setelah lama berpikir, Nashruddin berkata, “Kamu benar, karena aku tidak dapat menghitung dengan teliti... maaf, aku yang salah.”
Ayam Itu Tak Tahu Jalan
Suatu hari, Nashruddin meletakkan beberapa ekor ayam jantan miliknya dalam ssebuah sangkar besar. Dia lalu membawanya dari kota ke kota lainnya untuk dijual.
Di tengah jalan, dia merasa sangat berat membawa kurungan itu. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa binatang-binantang itu akan segera mati,karena satu sama lain saling berhimpitan dan kepanasan. Tak ada jalan lain kecuali melepaskan semuanya, agar mereka hidup bebas sesuai dengan keinginannya.
Nashruddin membuka pintu sangkar itu. Satu persatu ayam Nashruddin keluar dan terbang berhamburan. Nashruddin mengambil tongkatnya lalu pergi. Namun, tiba-tiba dijumpainya seekor ayam yang sedang terdiam. “Sialan!, semoga kamu cepat mati. Kamu dapat membedakan waktu subuh dan waktu tengah malam, namun mengapa kamu tidak tahu jalan siang-siang begini.”
Buat refresh aja..
Sedang Mimpi Indah, Ambilkan Kacamataku
Suatu hari, Nashruddin bangun tidur. Dia lalu berkata pada istrinya, “Tolong, ambilkan segera kaca mataku, sebelum mimpiku hilang.”
Sang istri langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambilkannya, lalu berkata, “mengapa harus pakai kaca mata segala?” Nashruddin menjawab, “Aku sedsang bermimpi sesuatu yang sangat lembut dan aku ingin melihat lebih jeli hal-hal yang belum jelas, dengan kaca mata ini.”
Tak Tahu Hitungannya
Nashruddin menikah. Istrinya lalu memberi tahu padanya bahwa dia telah hamil sejak tiga bulan lalu. Dia meminta padanya agar segera memanggilkan bidan. Nashruddin berkata, “Kami sudah tahu bahwa wanita melahirkan ketika bayi dalam kandungannya sudah sembilan bulan, lalu apa maksudnya ini?”
Istri Nashruddin marah dan berkata, “Aneh sekali kau ini. Hai, sudah berapa lama kita menikah? Bukankah tiga bulan lalu?” Nashruddin menjawab, “Ya..” Istri Nashrudding bertanya kembali, “Bukankah kamu tinggal bersamaku sudah tiga bulan? Jadi, enam bulan bukan?” Nashruddin menjawab, “Ya…” lalu istri Nashruddin kembali bertanya, “Dan janin yang ada di perutku ini sudah tiga bulan, sehingga seluruhnya menjadi sembilan bulan.”
Setelah lama berpikir, Nashruddin berkata, “Kamu benar, karena aku tidak dapat menghitung dengan teliti... maaf, aku yang salah.”
Ayam Itu Tak Tahu Jalan
Suatu hari, Nashruddin meletakkan beberapa ekor ayam jantan miliknya dalam ssebuah sangkar besar. Dia lalu membawanya dari kota ke kota lainnya untuk dijual.
Di tengah jalan, dia merasa sangat berat membawa kurungan itu. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa binatang-binantang itu akan segera mati,karena satu sama lain saling berhimpitan dan kepanasan. Tak ada jalan lain kecuali melepaskan semuanya, agar mereka hidup bebas sesuai dengan keinginannya.
Nashruddin membuka pintu sangkar itu. Satu persatu ayam Nashruddin keluar dan terbang berhamburan. Nashruddin mengambil tongkatnya lalu pergi. Namun, tiba-tiba dijumpainya seekor ayam yang sedang terdiam. “Sialan!, semoga kamu cepat mati. Kamu dapat membedakan waktu subuh dan waktu tengah malam, namun mengapa kamu tidak tahu jalan siang-siang begini.”

Journey
Bagaimana jika memandang hidup sebagai sebuah big adventure, petualangan besar. Ada berbagai macam bentuk petualangan, tapi satu garis lurus yang dapat di ambil, bahwa seorang petualang selalu mencari sesuatu yang baru, suatu yang tidak statis dan tantangan-tantangan baru.
Bagi mereka, perubahan adalah suatu yang dicari. Kondisi baru adalah tantangan baru apapun bentuknya. Tidak ada yang namanya mencari suatu steady state. Mereka yang mengambil jalan ini, tidak ada suatu kondisi pun yang dianggap sebagai kondisi terbaik. Kekayaan dianggap sebagai suatu petualangan, begitu juga kemiskinan dan berusaha melewati. Bertemu dengan berbagai karakter manusia adalah bagian dari petualangan, Keramaian dan kesendirian adalah tantangan yang harus dilalui dan dinikmati.
Berbeda dengan mereka yang mencari kondisi ideal yang berpatokan pada kecukupan materi dimana sebenarnya mereka hanya sedang membangun benteng-benteng semu bagi dirinya. Benteng merupakan gambaran kondisi save bagi mereka akan selalu berubah. Ketika mereka punya 1, memiliki 10 adalah kondisi yang mereka anggap aman. Ketika mereka punya 10, 50 dianggap kondisi save dan begitu seterusnya, karena ketika mereka telah berada di 10, kebutuhan dan gaya hidupnya juga berubah, maka 10 tidak lagi aman, memiliki 50 adalah kondisi aman. Disinilah mereka dianggap sedang membangun benteng-benteng semu. Sementara bagi mereka yang memandang hidup sebagai suatu petualangan, tidak ada border, tidak ada kastil yang mereka bangun, benteng yang hanya akan membatasi jarak pandangnya. Yang ada hanya suatu kumpulan bukit, laut dan padang terbuka yang penuh tanda tanya yang harus mereka lewati.
Suatu pencapaian hanyalah sebuah puncak dari satu tujuan dan menanti untuk mencapai puncak-puncak lainnya. Mereka akan selalu duduk sejenak di setiap puncak hanya untuk mengambil nafas, memandang sekeliling terhadap apa yang sudah dilewati, menikmati apa yang sudah di gapai dan berusaha memperbaiki diri untuk perjalanan selanjutnya. Perjalanan untuk mencapai yang lebih tinggi, yang lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)