Sunday, May 06, 2007

Menghitung Pahala

Pagi ini saya mulai menghitung pahala kembali, pahala apa saja yang saya lakukan mulai dari brangkat ke kantor sampai sekarang posting blog ini. Pahala pagi ini mulai dari tersenyum pada tetangga ketika manasin motor, baca do'a ketika mau brangkat, mendahulukan mobil lain ketika berpapasan di pertigaan, atau menyalip bapak-bapak yang lagi ngantar 3 anaknya dengan sangat hati-hati.

Menghitung pahala bukan untuk tujuan hitung-hitungan dengan Tuhan, atau bukan juga untuk tujuan ria, berbangga diri, tapi lebih secara pisikologis memacu untuk lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Mengingat perbuatan baik, biasanya akan memberikan kepuasan batin tersendiri, sehingga kita akan terpacu untuk meraih kepuasan tersebut lebih banyak lagi dengan selalu berbuat baik.

Suatu pahala tidak harus berupa tindakan-tindakan besar berupa zakat atau ibadah seperti shalat dan puasa. Contoh diatas cukup menggambarkan, betapa hal kecilpun jika dilakukan dengan ikhlas, adalah suatu pahala. Ikhlas pun bukan suatu ucapan 'saya ikhlas', tapi berasal dari hati, semakin bersih hati semakin mudah untuk berbuat ikhlas.

So, udah berbuat baik apa aja pagi ini?
Canda Ala Sufi

Buat refresh aja..


Sedang Mimpi Indah, Ambilkan Kacamataku


Suatu hari, Nashruddin bangun tidur. Dia lalu berkata pada istrinya, “Tolong, ambilkan segera kaca mataku, sebelum mimpiku hilang.”

Sang istri langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambilkannya, lalu berkata, “mengapa harus pakai kaca mata segala?” Nashruddin menjawab, “Aku sedsang bermimpi sesuatu yang sangat lembut dan aku ingin melihat lebih jeli hal-hal yang belum jelas, dengan kaca mata ini.”

Tak Tahu Hitungannya

Nashruddin menikah. Istrinya lalu memberi tahu padanya bahwa dia telah hamil sejak tiga bulan lalu. Dia meminta padanya agar segera memanggilkan bidan. Nashruddin berkata, “Kami sudah tahu bahwa wanita melahirkan ketika bayi dalam kandungannya sudah sembilan bulan, lalu apa maksudnya ini?”

Istri Nashruddin marah dan berkata, “Aneh sekali kau ini. Hai, sudah berapa lama kita menikah? Bukankah tiga bulan lalu?” Nashruddin menjawab, “Ya..” Istri Nashrudding bertanya kembali, “Bukankah kamu tinggal bersamaku sudah tiga bulan? Jadi, enam bulan bukan?” Nashruddin menjawab, “Ya…” lalu istri Nashruddin kembali bertanya, “Dan janin yang ada di perutku ini sudah tiga bulan, sehingga seluruhnya menjadi sembilan bulan.”

Setelah lama berpikir, Nashruddin berkata, “Kamu benar, karena aku tidak dapat menghitung dengan teliti... maaf, aku yang salah.”


Ayam Itu Tak Tahu Jalan

Suatu hari, Nashruddin meletakkan beberapa ekor ayam jantan miliknya dalam ssebuah sangkar besar. Dia lalu membawanya dari kota ke kota lainnya untuk dijual.

Di tengah jalan, dia merasa sangat berat membawa kurungan itu. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri bahwa binatang-binantang itu akan segera mati,karena satu sama lain saling berhimpitan dan kepanasan. Tak ada jalan lain kecuali melepaskan semuanya, agar mereka hidup bebas sesuai dengan keinginannya.

Nashruddin membuka pintu sangkar itu. Satu persatu ayam Nashruddin keluar dan terbang berhamburan. Nashruddin mengambil tongkatnya lalu pergi. Namun, tiba-tiba dijumpainya seekor ayam yang sedang terdiam. “Sialan!, semoga kamu cepat mati. Kamu dapat membedakan waktu subuh dan waktu tengah malam, namun mengapa kamu tidak tahu jalan siang-siang begini.”

Journey

Bagaimana jika memandang hidup sebagai sebuah big adventure, petualangan besar. Ada berbagai macam bentuk petualangan, tapi satu garis lurus yang dapat di ambil, bahwa seorang petualang selalu mencari sesuatu yang baru, suatu yang tidak statis dan tantangan-tantangan baru.

Bagi mereka, perubahan adalah suatu yang dicari. Kondisi baru adalah tantangan baru apapun bentuknya. Tidak ada yang namanya mencari suatu steady state. Mereka yang mengambil jalan ini, tidak ada suatu kondisi pun yang dianggap sebagai kondisi terbaik. Kekayaan dianggap sebagai suatu petualangan, begitu juga kemiskinan dan berusaha melewati. Bertemu dengan berbagai karakter manusia adalah bagian dari petualangan, Keramaian dan kesendirian adalah tantangan yang harus dilalui dan dinikmati.

Berbeda dengan mereka yang mencari kondisi ideal yang berpatokan pada kecukupan materi dimana sebenarnya mereka hanya sedang membangun benteng-benteng semu bagi dirinya. Benteng merupakan gambaran kondisi save bagi mereka akan selalu berubah. Ketika mereka punya 1, memiliki 10 adalah kondisi yang mereka anggap aman. Ketika mereka punya 10, 50 dianggap kondisi save dan begitu seterusnya, karena ketika mereka telah berada di 10, kebutuhan dan gaya hidupnya juga berubah, maka 10 tidak lagi aman, memiliki 50 adalah kondisi aman. Disinilah mereka dianggap sedang membangun benteng-benteng semu. Sementara bagi mereka yang memandang hidup sebagai suatu petualangan, tidak ada border, tidak ada kastil yang mereka bangun, benteng yang hanya akan membatasi jarak pandangnya. Yang ada hanya suatu kumpulan bukit, laut dan padang terbuka yang penuh tanda tanya yang harus mereka lewati.

Suatu pencapaian hanyalah sebuah puncak dari satu tujuan dan menanti untuk mencapai puncak-puncak lainnya. Mereka akan selalu duduk sejenak di setiap puncak hanya untuk mengambil nafas, memandang sekeliling terhadap apa yang sudah dilewati, menikmati apa yang sudah di gapai dan berusaha memperbaiki diri untuk perjalanan selanjutnya. Perjalanan untuk mencapai yang lebih tinggi, yang lebih baik.
Pulang

Kematian bisa datang kapan saja, masalahnya adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menerimanya. Apa yang terjadi sesaat ketika roh berpisah dari jasad, merupakan tanda tanya besar. Tidak ada satu orang pun yang dapat mendiskripsikan apa yang dialaminya saat ketika rohnya diangkat.

Saya percaya, membayangkan saat menjelang kematian dapat menjadi tolak ukur apa yang telah kita buat di dunia untuk dibawa ke akhirat. Cobalah untuk merenung sejenak saja, sejenak saja ketika sulit tidur, sejenak saja ketika lagi tidak banyak kegiatan di kantor dan waktu-waktu senggang lainya. Renungkan apa yang ada dalam bayangan kita jika saat itu juga kita harus 'pulang'. Mungkin akan muncul bayangan ketakutan akan kesalahan yang telah kita perbuat, ketakutan akan amal ibadah yang masih kurang, ketakutan akan hati yang belum bersih.

Dengan memikirkan sesaat sebelum kita dipanggil, moga dapat menjadi cara untuk introspeksi keimanan, untuk menjadi lebih baik. Saya percaya, mereka yang tersenyum saat meninggal dunia, mereka diperlihatkan perbuatan baik yang mereka perbuat, dan mereka tersenyum dan puas karena dengan bekal tersebut mereka siap untuk menemui-Nya.

wallahu'alam